News

10 Film Klasik Abbas Kiarostami, Bapak Sinema Filosofis Iran

Sejarah dan Karya Abbas Kiarostami, Sutradara Legendaris Sinema Iran

Abbas Kiarostami adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah sinema dunia. Dengan kecintaannya terhadap seni, khususnya puisi, ia mampu mengubah dirinya menjadi arsitek visioner yang membangun sinema Iran modern. Melalui karyanya, Kiarostami menggabungkan narasi yang penuh refleksi filosofis dengan realisme kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, ia menciptakan mahakarya yang puitis namun tetap membumi.

Salah satu ciri khas dari karya-karya Kiarostami adalah kerja sama dengan para aktor amatir. Mereka berakting layaknya diri mereka sendiri dalam skenario yang berbeda. Hal ini sejalan dengan visinya untuk mengabadikan cerminan kehidupan melalui lensa kamera. Pendekatan ini memberikan kesan autentik dan mendalam pada setiap film yang ia sutradarai.

Kiarostami tidak hanya menjadi penggerak gerakan Iranian New Wave, tetapi juga membawa sinema Iran menuju pengakuan internasional. Film-filmnya selama 40 tahun berkecimpung di industri film ini membuktikan bahwa puisi dan realisme bisa berdampingan dalam satu bingkai yang sama.

1. Close-Up (1990)

Film ini digarap dalam format docu-fiction dan diangkat dari kisah nyata. Hossein Sabzian nekat menyamar sebagai sutradara terkenal, Mohsen Makhmalbaf, untuk menipu sebuah keluarga kaya raya di Teheran. Film ini mengajak setiap orang yang terlibat di dalamnya untuk memerankan kembali peristiwa dan jalannya persidangan, sehingga mengaburkan garis tipis pemisah antara fiksi dan realita.

2. Taste of Cherry (1997)

Seorang pria paruh baya bernama Mr. Badii (Homayoun Ershadi) mendapati dirinya mengemudi di pinggiran kota Teheran, menawarkan imbalan fantastis bagi mereka yang bersedia menguburkan jasadnya usai mengakhiri hidupnya. Setelah mendapatkan banyak penolakan, ia bertemu dengan seorang pemuda yang bersedia melakukan tugas tersebut namun tetap berupaya membujuknya untuk mengurungkan niatnya.

Kiarostami berbagi penghargaan tertinggi di Cannes Film Festival, Palme d’Or, dengan The Eel (1997) yang disutradarai oleh Shōhei Imamura.

3. Through the Olive Trees (1994)

Hossein (Hossein Rezai) mendapati dirinya harus beradu peran dengan Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis pujaan yang telah menolak lamarannya berkali-kali. Sialnya, mereka berperan sebagai suami istri dalam film yang mereka bintangi. Menyadari hal tersebut, sang sutradara lantas membantu meluruskan ketegangan di antara keduanya dengan menutup proyek filmnya di antara pepohonan zaitun, dimana Tahereh akhirnya memberikan kepastian pada Hossein.

Through the Olive Trees merupakan penutup dari The Koker Trilogy.

4. Life, and Nothing More (1992)

Usai gempa bumi dahsyat yang menewaskan puluhan ribu orang melanda Iran Utara pada tahun 1990, seorang sutradara film dan putranya pergi ke desa Koker untuk memastikan aktor cilik yang pernah bekerjasama dengannya selamat. Sepanjang perjalanan, mereka menyaksikan bagaimana para penyintas yang telah kehilangan segalanya akibat gempa masih memiliki harapan dan terus menjalani hidup mereka.

Life, and Nothing More merupakan instalasi kedua dari The Koker Trilogy.

5. Where Is the Friend’s House? (1987)

Ahmed (Babek Ahmed Poor) dihantui rasa bersalah usai mengetahui kawannya Reza (Ahmed Ahmed Poor) terancam dikeluarkan dari sekolah akibat buku catatan milik Reza tidak sengaja terbawa olehnya. Meskipun telah dilarang oleh ibunya, Ahmed nekat pergi ke desa sebelah untuk mengembalikan buku tersebut untuk menyelamatkan kawannya dari hukuman berat.

Where Is the Friend’s House? merupakan film pembuka dari The Koker Trilogy yang saling terkait dan berlatar di desa Koker.

6. Certified Copy (2010)

Saat berada di Tuscany untuk mempromosikan buku terbarunya, James Miller (William Shimell) bertemu dengan Elle (Juliette Binoceh), seorang pemilik toko antik. Keduanya hanyut dalam perdebatan sengit tentang keaslian dalam seni hingga salah seorang dari pengunjung toko mengira mereka adalah pasangan. Alih-alih menyangkal, keduanya justru mulai bertingkah layaknya suami istri yang telah lama menikah.

7. The Wind Will Carry Us (1999)

Behzad (Behzad Dorani), seorang sineas ambisius berangkat ke sebuah desa terpencil untuk membuat film dokumenter tentang ritual duka lokal yang unik. Sayangnya, wanita tua yang dikabarkan sekarat tersebut terus bertahan hidup. Sambil menunggu maut menjemput, Behzad mulai menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat dan membuatnya merenungi kembali cara pandangnya akan kehidupan dan kematian.

8. 24 Frames (2017)

24 Frames merupakan film eksperimental sekaligus karya terakhir Abbas Kiarostami. Berbeda dengan film-film sebelumnya, film ini berisikan koleksi dari 24 frames atau adegan yang masing-masing berdurasi sekitar empat setengah menit. Menggunakan animasi dan efek digital, Kiarostami menghidupkan setiap foto dengan menciptakan momen yang mungkin terjadi sebelum atau sesudah foto tersebut diambil.

9. Ten (2002)

Terbagi dalam sepuluh segmen, film ini menampikan percakapan seorang pengemudi wanita dengan berbagai macam penumpang mulai dari putranya yang beranjak remaja, saudara perempuannya, hingga seorang pekerja seks. Memberikan gambaran akan peran dan tantangan yang dihadapi oleh wanita yang hidup di Iran yang mendambakan kebebasan.

10. Like Someone in Love (2012)

Untuk memenuhi kebutuhannya selama berkuliah di Tokyo, Akiko (Rin Takanashi), bekerja paruh waktu sebagai pekerja seks kelas atas. Suatu malam ia menemui kliennya, Takashi (Tadashi Okuno), seorang pensiunan profesor. Alih-alih menggunakan jasanya untuk memenuhi nafsu birahi, Akiko justru dibuat gelagapan ketika kliennya yang kesepian mempekerjakannya sebagai teman bicara.

Abbas Kiarostami meninggal dunia pada 4 Juli 2016 akibat komplikasi dari serangkaian operasi kanker saluran pencernaan yang dijalaninya pada usia 76 tahun. Kamu dapat menyaksikan film-film terbaik Kiarostami di YouTube secara gratis.

Penulis: Nida’an Khafiyya