Teknologi

3 Menteri Diundang Cak Imin Tobat Nasuha Terkait Bencana Sumatra

Polemik Pernyataan Cak Imin dan Kritik dari DPR

Cak Imin, Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia, mengeluarkan pernyataan yang memicu pro dan kontra terkait bencana banjir dan longsor di Sumatera. Dalam pernyataannya, ia menuntut tiga menteri—Kehutanan, ESDM, dan Lingkungan Hidup—untuk melakukan evaluasi total dan taubatan nasuha sebagai respons atas bencana tersebut.

Pernyataan ini mendapat kritik keras dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto. Menurutnya, pernyataan Cak Imin tidak tepat dan justru terkesan saling menyalahkan antar-kementerian di tengah situasi bencana yang sedang berlangsung.

Daftar 3 Menteri yang Diminta Cak Imin Taubatan Nasuha

Dalam suratnya, Cak Imin menyebutkan tiga menteri yang dimintai untuk melakukan evaluasi besar-besaran:

  • Menteri Kehutanan – Raja Juli Antoni

    Cak Imin meminta Menteri Kehutanan untuk mengevaluasi kebijakan pengelolaan hutan, terutama terkait deforestasi yang disebut menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir dan longsor di berbagai daerah.

  • Menteri ESDM – Bahlil Lahadalia

    Ia menyoroti pentingnya pertobatan kebijakan di sektor energi dan mineral yang diduga berkaitan dengan kerusakan lingkungan.

  • Menteri Lingkungan Hidup

    Cak Imin juga mengirim surat kepada Menteri Lingkungan Hidup untuk mengevaluasi seluruh kebijakan dan langkah mitigasi bencana.

Ketiga menteri ini diminta berkomitmen melakukan “evaluasi total” sebagai bentuk kesungguhan pemerintah dalam menghadapi bencana yang terus berulang.

Ajakan Cak Imin Dikritik DPR: Tidak Perlu Saling Menyalahkan

Panggah Susanto menilai pernyataan Cak Imin terlalu tendensius dan tidak memberikan solusi komprehensif. Ia menegaskan bahwa pemerintah semestinya fokus pada penanganan dan pencegahan bencana, bukan melempar tanggung jawab.

“Prinsipnya sangat tidak tepat mengeluarkan pernyataan seperti itu dalam kondisi bencana, apalagi itu keluar dari seorang Muhaimin Iskandar yang juga berada di pemerintahan,” ujarnya.

Menurut Panggah, akar masalah banjir dan longsor tidak hanya soal kebijakan satu kementerian, tetapi akumulasi persoalan panjang seperti penggundulan hutan, curah hujan ekstrem, hingga lemahnya pengawasan tata ruang.

Bencana sebagai Momentum Evaluasi Total

Panggah berharap bencana justru menjadi momentum introspeksi kebijakan lingkungan dan kehutanan di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa hutan di Jawa, misalnya, dari 2,4 juta hektare, separuhnya kini menjadi lahan terbuka.

Ini merupakan akumulasi masalah masa lalu yang belum diselesaikan secara menyeluruh. Ia mendesak pemerintah merumuskan langkah strategis yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Pernyataan Cak Imin: Kiamat Sudah Terjadi Akibat Kelalaian

Sebelumnya, saat menghadiri acara Workshop Kepala Sekolah SMK di Bandung, Cak Imin menyebut bencana ini sebagai tanda peringatan besar.

“Kiamat bukan sudah dekat, kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” ujarnya.

Ia berharap seluruh pihak, termasuk para menteri terkait, melakukan evaluasi mendalam agar bencana serupa tak terus terulang.


Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya