Teknologi

4 Kritik Dino Patti Djalal pada Menlu Sugiono: Kepemimpinan Kurang dan Risiko Diplomasi RI Turun

Kritik Terbuka dari Diplomat Senior terhadap Kinerja Menteri Luar Negeri

Dalam sebuah pernyataan video yang diunggah ke akun Instagram pribadinya, seorang diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal, menyampaikan kritik terbuka terhadap kinerja Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono. Ia menilai bahwa tanpa adanya perbaikan serius dan nyata, Sugiono berisiko dicatat dalam sejarah sebagai Menlu dengan “rapor merah”.

Dino mengungkapkan empat kritik utama yang ia anggap penting bagi masa depan diplomasi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kritik ini disampaikan sebagai sesepuh Kementerian Luar Negeri, pendukung politik luar negeri Indonesia, ketua organisasi masyarakat hubungan internasional terbesar di Indonesia dan Asia, serta sebagai warga negara yang telah mengabdi di dunia diplomasi selama 40 tahun.

Ia mengaku terpaksa menyampaikan pesan tersebut melalui media sosial karena seluruh jalur komunikasi langsung dengan Menlu Sugiono dinilai telah terblokir selama beberapa bulan.

1. Kepemimpinan di Kemlu Dinilai Kurang Fokus

Dino menilai bahwa seorang menteri luar negeri idealnya harus mencurahkan waktu penuh untuk memimpin Kementerian Luar Negeri. Minimal 50 persen waktu, atau jika memungkinkan hingga 80 persen, perlu dialokasikan untuk mengurus Kemlu.

Ia menggunakan analogi mobil Ferrari yang diisi oleh diplomat-diplomat bertalenta luar biasa, namun tidak akan melaju optimal tanpa pengemudi yang fokus dan piawai. Menurut Dino, banyak KBRI kini tidak mendapatkan arahan jelas dari pusat, rapat koordinasi para duta besar tertunda hampir setahun, serta kinerja diplomat menurun akibat pemangkasan anggaran.

Kondisi ini memicu demoralisasi karena inisiatif para diplomat merasa tidak direspons oleh pimpinan.

2. Minim Komunikasi Politik Luar Negeri ke Publik

Kritik kedua menyasar aspek komunikasi Menlu Sugiono. Dino merujuk ajaran mantan Menlu Ali Alatas bahwa politik luar negeri dimulai dari rumah, sehingga setiap langkah diplomasi harus dijelaskan dan dipahami publik.

Ia membandingkan dengan Menteri Keuangan Purbaya yang dinilai sukses membangun kepercayaan lewat komunikasi intensif. Sebaliknya, Dino mencatat Menlu Sugiono belum pernah menyampaikan pidato kebijakan dalam setahun terakhir, baik di dalam maupun luar negeri, serta tidak pernah memberikan wawancara khusus kepada media terkait substansi politik luar negeri.

Minimnya penjelasan publik ini, menurut Dino, berisiko membuat Sugiono dicap sebagai silent minister.

3. Jarak dengan Pemangku Kepentingan Internasional

Dino juga menyoroti hubungan Menlu Sugiono dengan para konstituen dan pemangku kepentingan hubungan internasional. Ia menilai Menlu terkesan jauh, tidak komunikatif, tidak responsif, dan sulit diakses.

Banyak duta besar disebut kesulitan menemui Menlu saat kembali ke Indonesia, sehingga berisiko menghilangkan peluang diplomasi dan membuat hubungan bilateral menjadi tidak seimbang.

Dino mengingatkan prinsip ‘never burn your bridges’, karena kepercayaan dan dukungan tidak datang otomatis, melainkan harus diupayakan dan dijaga secara aktif.

4. Kurang Terbuka terhadap Akar Rumput Hubungan Internasional

Kritik terakhir berkaitan dengan keterbukaan Menlu Sugiono terhadap kerja sama dengan organisasi masyarakat dan akar rumput hubungan internasional. Dino menegaskan bahwa membantu Presiden Prabowo tidak berarti memunggungi rakyat, karena keduanya justru saling menguatkan.

Ia menilai dalam diplomasi, inisiatif bisa datang dari atas maupun dari bawah. Oleh karena itu, gotong royong antara pemerintah dan ormas hubungan internasional menjadi kunci keberhasilan politik luar negeri.

Dino pun menilai terdapat kontradiksi antara seruan kerja sama di forum internasional dengan praktik domestik yang dinilai masih sulit diajak berkolaborasi.

Di akhir pernyataannya, Dino menegaskan empat kritik tersebut disampaikan sebagai peringatan sekaligus harapan. Menurutnya, jika masukan itu dijalankan, Sugiono berpeluang dikenang sebagai Menteri Luar Negeri yang cemerlang.

Namun jika diabaikan, ia mengingatkan diplomasi Indonesia berisiko merosot dan Kementerian Luar Negeri akan dicatat sejarah dengan nilai merah.

Hingga berita ini dibuat, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kementerian Luar Negeri ataupun Menlu Sugiono terhadap kritik terbuka yang disampaikan oleh Dino Patti Djalal.

Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya