Teknologi

Akulaku Ungkap Tantangan yang Bisa Pengaruhi Kinerja Multifinance 2026



Industri multifinance di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi kinerjanya pada tahun ini. Perusahaan pembiayaan PT Akulaku Finance Indonesia, salah satu pelaku utama di sektor ini, mengakui bahwa kondisi ekonomi makro masih menjadi faktor penting yang bisa memengaruhi pertumbuhan industri hingga 2026.

Direktur Keuangan Akulaku Finance, Aan Setiawandi, menjelaskan bahwa beberapa tantangan utama yang perlu diperhatikan antara lain daya beli konsumen yang menurun, tingkat suku bunga yang fluktuatif, serta pertumbuhan industri otomotif yang lambat. Selain itu, rendahnya penetrasi kendaraan roda empat terhadap populasi penduduk juga berdampak pada sebagian besar transaksi kredit yang dilakukan oleh perusahaan multifinance.

“Kondisi-kondisi ini akan terus memengaruhi kinerja industri jika tidak dikelola dengan baik,” ujarnya dalam wawancara dengan Publica.id.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Aan menilai industri multifinance perlu menerapkan strategi yang lebih tepat dan adaptif. Dengan antisipasi yang baik, sektor ini tetap memiliki potensi untuk berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Salah satu fokus utama Akulaku Finance pada tahun depan adalah produk Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater. Menurut Aan, pasar untuk layanan ini masih sangat besar karena kemudahan akses dan proses pengajuan kredit yang sepenuhnya digital.

“Perusahaan akan terus memperluas kerja sama dengan e-commerce maupun merchant offline untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan,” tambahnya.

Meski potensi pasar masih menjanjikan, Aan juga mengakui adanya tantangan dalam bisnis paylater. Saat ini, semakin banyak pemain baru, termasuk bank-bank besar, yang masuk ke segmen ini. Hal ini membuat persaingan semakin ketat.

Dalam hal kinerja, Aan menyatakan bahwa pertumbuhan bisnis paylater Akulaku Finance pada November 2025 sudah mencapai target yang ditetapkan. Pertumbuhannya mencapai angka dua digit, sesuai dengan harapan perusahaan.

“Pertumbuhan ini telah tercapai sesuai target, dan kami berharap dapat terus berlanjut pada tahun depan,” ujarnya.

Sebagai informasi, data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 507,14 triliun per September 2025. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya, Agusman, menyebutkan bahwa pertumbuhan piutang tersebut sebesar 1,07% secara tahunan (Year on Year).

Jika dibandingkan dengan posisi Agustus 2025, pertumbuhan piutang pada September 2025 terbilang melambat. Pada Agustus 2025, nilai piutang pembiayaan mencapai Rp 505,59 triliun dengan pertumbuhan sebesar 1,26%.

Tantangan ekonomi makro dan persaingan yang semakin ketat memaksa industri multifinance untuk terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan strategi yang tepat, sektor ini diharapkan tetap mampu bertahan dan berkembang meskipun menghadapi berbagai tekanan.

Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya