Olahraga

Analisis Taktik Andoni Iraola: Gaya Permainan Baru Liverpool

Andoni Iraola resmi menggantikan Arne Slot sebagai pelatih kepala Liverpool, mengambil alih tim yang baru saja menjuarai Liga Primer Inggris. Banyak yang menilai gaya permainan manajer asal Spanyol ini lebih selaras dengan filosofi ‘heavy metal’ yang populer di Anfield di bawah Jurgen Klopp. Pertanyaannya, bagaimana performa Liverpool dalam laga pramusim di bawah arahan Iraola?

Dalam beberapa pertandingan pramusim, Liverpool berhasil mengalahkan Sunderland dan Wrexham. Namun, mereka juga harus menelan kekalahan dari Leeds dan Monaco setelah sempat unggul dua gol. Dalam periode ini, rata-rata penguasaan bola tim mencapai 60,6%, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan rata-rata penguasaan bola Bournemouth di liga musim lalu di bawah asuhan Iraola yang hanya 47,7%. Menghadapi tim yang cenderung bermain bertahan, mengelola penguasaan bola menjadi tantangan baru bagi Iraola, yang berusaha menerapkannya dengan gaya permainan intens dan dinamis.

Strategi Penguasaan Bola dan Serangan Balik

Sejak bergabung dengan Liverpool, banyak taktik Iraola dalam penguasaan bola yang menunjukkan kemiripan dengan musim sebelumnya. Liverpool terlihat membangun serangan dari lini belakang, dengan kiper, empat bek, dan satu atau dua gelandang tengah yang siap menerima bola. Dominik Szoboszlai dan Trey Nyoni, yang menjadi duet gelandang pilihan dalam pramusim, kerap turun untuk membuka ruang dan mendistribusikan bola ke pemain sayap.

Tim Iraola dikenal dengan serangan balik yang cepat dan vertikal. Namun, dengan Liverpool yang kini lebih berupaya mengontrol bola secara deliberate, umpan-umpan pendek dalam fase build-up dirancang untuk memancing tekanan lawan sebelum mempercepat tempo permainan. Begitu tim lawan terpancing menekan, para pemain Liverpool siap melepaskan umpan terobosan ke depan, seolah menciptakan serangan balik mereka sendiri.

Jika lawan langsung melakukan pressing, Liverpool tidak ragu untuk melewati fase build-up pendek dan langsung melancarkan bola panjang dari kiper Alisson atau Giorgi Mamardashvili. Dengan bermain langsung, meskipun Liverpool kalah dalam duel udara awal, mereka berada dalam posisi yang baik untuk memperebutkan bola kedua dan menyerang ruang yang terbuka di lini tengah ketika pertahanan lawan tidak terorganisir.

Pengaruh Marcelo Bielsa dan Pola Serangan

Banyak prinsip penyerangan Iraola menyerupai salah satu inspirasi manajerialnya, Marcelo Bielsa. Bielsa melatih Iraola di Athletic Club antara tahun 2011 hingga 2013. Dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports pada 2023, Iraola mengakui pengaruh tersebut. “Saya menggunakan banyak latihan dari Marcelo yang saya pelajari darinya, terutama saat menguasai bola,” ujar Iraola. “Secara ofensif, timnya sangat dinamis, bersedia melakukan semua pergerakan ke ruang kosong, dia siap menerima kekacauan semacam ini dalam menyerang.”

Seperti tim asuhan Bielsa, Iraola sudah membuat Liverpool bermain dengan tempo yang sibuk. Saat menyerang, jarang terlihat pemain Liverpool mengisi area tertentu dengan gaya yang kaku. Bielsa juga kerap memanfaatkan kombinasi pemain di sisi sayap untuk membongkar pertahanan lawan. Iraola mengalami ini secara langsung saat bermain sebagai bek kanan di bawah Bielsa, di mana bek sayap dan penyerang sayap kerap berkolaborasi.

Pola ini terlihat di Liverpool, terutama di sisi kiri, di mana bek sayap sering masuk ke sepertiga akhir lapangan bersama Rio Ngumoha atau Cody Gakpo. Florian Wirtz, yang bermain sebagai nomor 10, kerap bergerak ke sisi sayap untuk menciptakan opsi ketiga yang mampu bermain di tengah, dekat, atau di sisi sayap. Rotasi dalam segitiga sayap ini menyulitkan lawan untuk menentukan siapa yang harus dijaga. Dengan menyederhanakan permainan menyerang menjadi situasi dua lawan dua atau tiga lawan tiga, Liverpool berharap memiliki solusi yang dinamis dan berulang, menghasilkan umpan silang dari posisi berbahaya.

Kelemahan dan Potensi Kerentanan

Meskipun gaya permainan ini menarik, ia meninggalkan Liverpool dengan komposisi pemain yang cenderung menyerang. Dalam beberapa pertandingan pembuka, terlihat kedua bek sayap bergabung dalam serangan bersama dua dari tiga gelandang dan trio penyerang. Hal ini dapat mengakibatkan situasi di mana hanya dua bek tengah dan satu gelandang bertahan yang berada di belakang bola, membuat Liverpool rentan terhadap serangan balik.

Menariknya, tim Liverpool asuhan Slot juga menunjukkan kerentanan terhadap serangan balik cepat musim lalu. Iraola sendiri telah berbicara tentang perlunya kontrol lebih besar sambil mempertahankan kekacauan yang membuat serangan timnya efektif. Ia mungkin akan memutuskan untuk menempatkan lebih banyak pemain di belakang bola seiring berjalannya musim.

Namun, berdasarkan prinsip-prinsip sebelumnya dan referensi manajerialnya, hal ini tampaknya kurang mungkin terjadi. Pelatih asal Basque ini sering mendorong enam atau tujuh pemain maju, meninggalkan tiga atau empat pemain di belakang saat menyerang. Harapannya adalah menghentikan serangan balik di sumbernya melalui pressing intens, yang dibantu oleh penyerangan dari sisi lapangan dan adanya pemain tambahan di dekatnya untuk memberikan tekanan.

Ini tidak mudah dilakukan pada tahap awal ini. Iraola merefleksikan kekalahan dari Monaco, mengatakan timnya “tidak dapat mempertahankan level yang kami inginkan, kami punya pekerjaan yang harus dilakukan”, merujuk pada keunggulan yang hilang di babak kedua, yang disebabkan oleh kedalaman skuad yang kurang, penurunan fisik, dan pressing yang belum sempurna.

Pressing Intens dan Peran Kunci

Sepanjang pramusim, terlihat pula ciri khas pressing tinggi ala Iraola. Yang menonjol adalah peran yang diambil para pemain Liverpool dan apa yang diindikasikan tentang bagaimana ia ingin timnya bertahan. Szoboszlai, yang musim lalu bermain di berbagai posisi, kini lebih sering dimanfaatkan sebagai gelandang tengah kedua, peran krusial dalam pertahanan.

Liverpool sering melakukan pressing dalam formasi 4-4-2 diamond, awalnya mendorong lawan bermain pendek sebelum melancarkan urutan pressing yang lebih agresif, seringkali mengarahkan bola ke tengah sebelum mencoba merebutnya kembali. Satu prinsip yang dibawa dari Bournemouth adalah menjaga satu pemain bertahan ekstra menghadapi serangan lawan. Jika lawan menurunkan tiga penyerang, Liverpool biasanya akan memilih untuk menjaga empat bek di belakang.

Hal ini berarti satu pemain lebih sedikit berada di posisi menyerang, sehingga Liverpool harus mengimbanginya melalui intensitas dan pergerakan cerdas. Ketika satu pemain meninggalkan lawannya untuk melakukan pressing terhadap pemain lain, rekan satu tim di belakangnya harus mengenali pergerakan tersebut dan menutup pemain yang ditinggalkan bebas. Ini membuat peran gelandang Szoboszlai menjadi sangat penting.

Ketika ia maju untuk melakukan pressing, gelandang bertahan dan lini pertahanan harus bereaksi di belakangnya, atau celah bisa dengan cepat muncul. Szoboszlai sendiri memuji manajernya, “Dia sangat bagus. Intensitas yang kami butuhkan ada di sini sekarang, apa yang hilang dari kami telah kembali.” Fisik Szoboszlai memungkinkannya untuk menutupi area yang dibutuhkan agar pressing Liverpool terasa seimbang secara jumlah, sementara penilaiannya tentang kapan harus maju membantu The Reds mulai menerapkan ide-ide pertahanan Iraola dengan cepat.

Meskipun empat pertandingan pramusim adalah sampel yang sangat kecil, jejak Iraola di Liverpool sudah terlihat jelas, menampilkan banyak instruksi yang sama yang mendefinisikan tim Bournemouth-nya. Ide-ide tersebut telah terbukti berhasil. Namun, bagaimana ia menyeimbangkan kekacauan dan kecepatan yang menjadi ciri khas timnya, dengan skuad yang kurang dalam hal kedalaman dan diharapkan mendominasi bola dalam periode yang lebih lama, kemungkinan akan membentuk musim pertamanya.

Penulis: Airul AnwarEditor: Airul Anwar