Overthinking: Kehidupan Generasi Muda di Era Digital
Di tengah riuhnya notifikasi, tumpukan tugas, dan ekspektasi yang datang dari berbagai arah, banyak anak muda kini hidup dalam lingkaran pikiran yang tak kunjung berhenti. Pikiran yang terus memutar kemungkinan, rasa takut gagal, dan keinginan untuk sempurna — semua bercampur dalam satu kata yang sangat populer: overthinking.
Survei Mental Health Foundation (2023) mencatat, 62% anak muda merasa sulit berhenti memikirkan hal-hal yang tidak bisa mereka kontrol. Angka ini menunjukkan betapa overthinking telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda, terutama di era digital yang serba cepat. Namun di balik itu, ada beragam cara yang mereka temukan untuk menenangkan diri – bahkan jika hanya untuk sejenak.
Ketika Pikiran Tak Bisa Diam
Bayangkan seseorang duduk di kamar, lampu redup, tapi matanya tak bisa lepas dari layar ponsel. Timeline media sosial penuh dengan pencapaian orang lain, sementara dirinya merasa tertinggal. Inilah realita banyak anak muda masa kini — dunia serba cepat membuat mereka sulit berhenti membandingkan diri.
Menurut psikolog muda Nadya Rahma, M.Psi, yang kini aktif menangani klien remaja dan mahasiswa, “overthinking sering muncul karena kita ingin mengontrol hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan. Semakin kita berusaha menenangkan pikiran, kadang justru semakin bising.”
Dalam psikologi, pelarian semacam ini dikenal sebagai coping mechanism, yaitu upaya individu untuk mengurangi tekanan mental melalui aktivitas yang menenangkan. Namun, di sisi lain, media sosial kerap memperburuk kondisi ini. Algoritma yang terus menampilkan “kesuksesan orang lain” memicu fenomena fear of missing out (FOMO), membuat anak muda makin sulit lepas dari pikiran negatif.
Pelarian yang Menyembuhkan
Bagi sebagian orang, melarikan diri sejenak dari rutinitas bukan tanda lemah. Justru itu menjadi cara bertahan. Rina (22), seorang mahasiswa desain, mengaku menemukan ketenangan dengan berjalan sendiri ke taman setiap sore.
“Awalnya aku kira healing itu harus jalan-jalan jauh atau nongkrong bareng teman. Tapi ternyata, duduk diam sambil denger musik di taman aja bisa bikin pikiran tenang. Aku bisa mikir lebih jernih,” ujarnya sambil tersenyum.
Bentuk pelarian setiap orang memang berbeda. Ada yang menulis jurnal, mendengarkan lagu, menonton konser, atau sekadar tidur lebih awal. Semua itu menjadi cara untuk kembali menemukan keseimbangan diri setelah hari-hari yang melelahkan.
Di Antara Pelarian dan Penerimaan
Namun, tidak semua pelarian memberi hasil positif. Ada kalanya pelarian justru berubah menjadi bentuk penyangkalan. Nadya menjelaskan, “Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita hanya lari, tapi tidak pernah menghadapi. Misalnya, terus-menerus scrolling media sosial atau keluar rumah hanya untuk menghindar. Itu bisa memperburuk kecemasan.”
Dalam teori Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pikiran negatif yang terus berulang dapat memengaruhi perasaan dan perilaku seseorang. Karena itu, proses penyembuhan sering kali dimulai dari penerimaan diri, bukan penyangkalan.
“Tidak apa-apa tidak selalu kuat. Tidak apa-apa jika belum produktif hari ini. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah istirahat tanpa rasa bersalah,” tambah Nadya.
Menemukan Ketenangan di Tengah Kekacauan
Overthinking mungkin tidak akan hilang sepenuhnya, tapi kita bisa belajar berdamai dengannya. Dengan memberi ruang untuk diri sendiri – entah lewat konser musik, secangkir kopi, berjalan di taman, atau sekadar diam – anak muda menemukan bahwa pelarian bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari proses bertahan.
Beberapa cara sederhana yang bisa membantu antara lain:
- Menulis jurnal harian untuk menyalurkan pikiran
- Melakukan meditasi ringan atau pernapasan singkat
- Membatasi waktu layar sebelum tidur
Karena pada akhirnya, seperti kata Rina sebelum menutup percakapan kami,
“Hidup emang ribet, tapi asal kita tahu kapan harus berhenti sebentar, semuanya bisa terasa lebih ringan.”
