Peningkatan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Kabupaten Mojokerto
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana yang semakin dinamis dan kompleks. Hal ini disampaikan oleh Bupati Muhammad Albarraa dalam Rapat Tahunan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Mojokerto 2025, yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Aston Hotel Mojokerto, Selasa (9/12) pagi.
Bupati Albarraa menekankan pentingnya adaptasi terhadap pola bencana yang tidak lagi bisa dihadapi dengan pendekatan lama. Ia menyatakan bahwa setiap daerah, termasuk Kabupaten Mojokerto, harus bersiap lebih awal, lebih terstruktur, dan lebih terkoordinasi.
Ia menyoroti beberapa faktor yang menjadi pemicu meningkatnya risiko bencana, seperti cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan. Aktivitas seperti penebangan pohon secara tidak terkendali, alih fungsi lahan yang tidak terencana, pendirian bangunan di area rawan, serta pola hidup yang kurang peduli kebersihan lingkungan disebut sebagai akar masalah utama.
Dalam rapat yang dihadiri 50 peserta dari relawan FPRB dan jajaran BPBD tersebut, Bupati Albarraa menekankan peran krusial relawan sebagai pilar ketangguhan daerah. Menurutnya, relawan yang tergabung dalam FPRB adalah perpanjangan tangan BPBD dan pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang lebih siap, lebih sadar, dan lebih tangguh menghadapi bencana.
Ia juga menambahkan bahwa peran FPRB sangat penting dan berdampak besar. Keberadaan FPRB mewakili kekuatan masyarakat, menggerakkan partisipasi warga, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara BPBD dan masyarakat luas.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, menjelaskan bahwa rapat tahunan ini bertujuan strategis untuk memperkuat kinerja kelembagaan dan menyusun rencana kerja yang selaras dengan kebijakan BPBD, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Ia menyatakan bahwa rapat tahunan ini bukan hanya forum evaluasi, tetapi juga momentum untuk mempererat silaturahmi, menyamakan langkah, dan memperbarui komitmen kita dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Rinaldi berharap hasil rapat ini dapat meningkatkan kolaborasi FPRB agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat.
Langkah-Langkah Peningkatan Kesiapsiagaan
Berikut beberapa langkah yang ditekankan dalam rapat tersebut:
-
Peningkatan Kesadaran Masyarakat
Masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap ancaman bencana. Edukasi dan sosialisasi dilakukan melalui berbagai media dan kegiatan komunitas. -
Koordinasi Antar Lembaga
Kerjasama antara BPBD, FPRB, dan instansi terkait diperlukan untuk memastikan respons yang cepat dan efektif saat terjadi bencana. -
Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkungan dilakukan secara berkala untuk mendeteksi potensi bencana lebih dini. Hal ini mencakup pengawasan aktivitas manusia yang berdampak pada lingkungan. -
Penguatan Kapasitas Relawan
Pelatihan dan pemberdayaan relawan menjadi fokus utama. Dengan kapasitas yang lebih baik, relawan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam penanggulangan bencana. -
Pengembangan Teknologi
Pemanfaatan teknologi dalam pemantauan dan pengelolaan bencana ditingkatkan. Sistem informasi dan komunikasi yang lebih canggih akan membantu dalam pengambilan keputusan.
Gambar ilustrasi: Kegiatan pelatihan relawan dalam menghadapi bencana.
Gambar ilustrasi: Peran BPBD dalam koordinasi penanggulangan bencana.
