News

BRIN Ciptakan Deteksi Makanan Busuk untuk Akses Gizi Gratis

Pengembangan Alat Penguji Makanan untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang mengembangkan alat penguji atau test kit yang dirancang untuk mendeteksi makanan basi. Alat ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam mencegah kasus keracunan yang sering terjadi akibat makanan yang tidak layak dikonsumsi, khususnya dalam program makan bergizi gratis (MBG).

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menjelaskan bahwa pengembangan test kit ini bertujuan untuk memastikan keamanan makanan yang disajikan dalam program MBG. Alat tersebut akan digunakan untuk mendeteksi adanya bakteri atau mikroorganisme berbahaya pada makanan sebelum disajikan kepada peserta program.

“Saat ini kami sedang fokus mengembangkan test kit itu untuk mendukung MBG, agar bisa mencegah potensi keracunan dengan cara mengecek apakah makanan sudah busuk atau tidak,” ujar Handoko saat hadir dalam forum Pengelolaan Biodiversitas dan Penguatan HKI untuk Masa Depan Berkelanjutan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu 1 Oktober 2025.

Handoko menjelaskan bahwa konsep test kit yang dikembangkan memiliki desain sederhana, praktis digunakan, serta biaya yang terjangkau namun tetap efektif. Ia memberikan contoh, alat ini bisa berbentuk seperti test kit berbasis kertas yang dapat digunakan langsung oleh petugas di dapur MBG untuk melakukan pemeriksaan makanan secara langsung.

Dia berharap, dengan alat ini, para pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dapat lebih mudah dan cepat dalam mengecek kualitas makanan yang disiapkan. Meski demikian, ia belum dapat memastikan kapan alat ini akan diproduksi secara massal dan didistribusikan.

“Semoga sesegera mungkin, tapi harapan saya tahun depan bisa terealisasi,” kata dia.

Selain pengembangan test kit, BRIN juga tengah mencari solusi teknologi dalam pengolahan bahan pangan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program MBG. Salah satu contohnya adalah ekstraksi produk pertanian yang lebih praktis dan tahan lama. Contohnya adalah ekstraksi bawang menjadi bubuk bawang.

“Fluktuasi harga produk pertanian seperti bawang cukup tinggi, jadi dengan adanya inovasi teknologi semacam itu, diharapkan dapat menjaga stabilitas harga dan memperpanjang masa simpan bahan pangan bagi penyedia MBG,” ujarnya.

Pentingnya Pendanaan Riset dalam Pembangunan Nasional

Dalam forum yang sama, Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pentingnya menjaga pendanaan riset meskipun pemerintah sedang berupaya efisiensi anggaran. Menurutnya, pemotongan dana riset bisa berdampak negatif terhadap penelitian yang sudah berjalan, terutama jika penelitian tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan publik.

“Jangan sampai ada pemotongan dana riset, misalnya penelitian yang sebenarnya sudah masuk tahap tiga, tapi ketika tahap satu menuju dua sudah oke, tiba-tiba tak ada dana, pasti akan dihentikan,” katanya.

Megawati juga mengingatkan, saat Menteri Keuangan masih dijabat Sri Mulyani Indrawati, ia pernah menyampaikan protes terkait penghematan anggaran. “Saya sempat berkata, ‘Kalau penghematan itu masak segalanya dipotong?’” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pentingnya dukungan pemerintah terhadap riset dan inovasi sebagai bagian dari upaya pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Penulis: Nida’an Khafiyya