News

Colliers: Okupansi Hotel Jakarta Turun, Tarif Sewa Naik

Tingkat Keterisian Hotel Jakarta Masih Rendah, Namun Harga Kamar Naik

Pada Agustus 2025, tingkat keterisian atau okupansi hotel di Jakarta masih belum mampu mencapai angka yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Ferry Salanto, Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, yang menjelaskan bahwa penurunan permintaan dari pemerintah menjadi salah satu faktor utama.

Menurut Ferry, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan sejak awal tahun memengaruhi pengeluaran pemerintah dalam hal akomodasi. Dampaknya terasa hingga saat ini, karena pasar dari pemerintah memang relatif rendah. “Efek instruksi efisiensi tersebut masih terasa sampai sekarang,” ujarnya dalam diskusi daring pada Rabu, 1 Oktober 2025.

Selain itu, adanya isu geopolitik juga turut memengaruhi bisnis perhotelan. Hal ini menambah tantangan bagi hotel-hotel di kawasan bisnis seperti Jakarta dan Surabaya, yang sebagian besar mengandalkan pasar pemerintah sebagai pelanggan utama.

Meski tingkat okupansi turun, ada hal menarik yang terjadi. Menurut Ferry, rata-rata tarif harian atau average daily rate (ADR) pada Agustus 2025 justru lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meskipun ia tidak merinci besaran kenaikan tarif, namun ia menyebutkan bahwa tingkat harga rata-rata bulanan tercatat lebih tinggi.

Ferry menjelaskan bahwa meskipun jumlah tamu yang menginap di hotel Jakarta menurun, para pemilik hotel tetap bisa menetapkan harga yang lebih tinggi. Alasannya adalah pasar utama mereka kini beralih ke korporasi non-pemerintah dan wisatawan independen (FIT). “Jadi, walaupun okupansinya rendah, tingkat ADR-nya bisa lebih tinggi karena pasarnya bukan lagi dari pemerintah,” tambahnya.

Dari sisi pasokan, kondisi pasar perhotelan Jakarta tergolong stabil. Tidak ada penambahan signifikan hingga 2028, kecuali masuknya hotel berbintang empat. Ferry menilai situasi ini tidak terlalu mengkhawatirkan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, ketika pertumbuhan hotel terjadi sangat pesat.

Faktor Penyebab Perubahan Pasar Hotel

Beberapa faktor utama yang memengaruhi perubahan tren hotel di Jakarta antara lain:

  • Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang mengurangi permintaan dari sektor pemerintah.
  • Isu geopolitik yang memengaruhi kepercayaan investor dan pengunjung.
  • Perpindahan pasar dari pemerintah ke korporasi swasta dan wisatawan independen.
  • Stabilitas pasokan dengan tidak adanya penambahan hotel secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Perkembangan Tarif Hotel

Meskipun okupansi turun, tarif hotel justru meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa hotel mampu menyesuaikan harga berdasarkan permintaan pasar yang berubah. Dengan pasar yang lebih beragam, hotel dapat menetapkan harga yang lebih kompetitif tanpa harus mengurangi kualitas layanan.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Meskipun ada tantangan, seperti penurunan permintaan dari pemerintah, terdapat peluang baru bagi hotel untuk menarik pelanggan dari segmen lain. Korporasi swasta dan wisatawan independen memberikan fleksibilitas dalam pengaturan tarif dan fasilitas. Selain itu, pengembangan hotel bintang empat juga membuka peluang baru dalam persaingan pasar.

Dengan kondisi pasar yang relatif terkendali dan strategi yang tepat, industri perhotelan Jakarta tetap memiliki potensi untuk berkembang, meskipun dalam skala yang lebih stabil dibandingkan masa lalu.

Penulis: Nida’an Khafiyya