Pengalaman Nisman dan Sugiha Saat Erupsi Gunung Semeru
Gemuruh awan panas guguran Gunung Semeru, sore itu masih teringat jelas dalam ingatan Nisman, kakek warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Ketika sirine panjang berbunyi terus menerus, warga lereng Gunung Semeru sudah paham. Itu adalah tanda akan terjadi erupsi. Suara gemuruh menambah kengerian sore itu. Mereka kocar-kacir menyelamatkan diri.
“Seperti abu bergemuruh. Ya (saat itu) lagi di rumah, langsung lari. Nggak ada pikiran apa-apa, pokoknya lari menyelamatkan diri dulu,” tutur Nisman di Posko pengungsian SD Negeri 4 Supiturang, Jumat (21/11). Benar saja, tak lama setelah Nisman dan warga mengungsi, guguran material vulkanik Semeru menghantam Dusun Sumbersari. Rumah Nisman yang ditinggalkan tergesa pun luluh lantak diterjang erupsi sore itu.
Tak hanya rumah, sejumlah hewan ternak milik Nisman juga dilapap material vulkanik erupsi Gunung Semeru. Duduk meringkuk, kakek berusia 70-an itu hanya berharap kondisi kembali normal.
“Kena (material vulkanik) rumah habis, sama kambing hewan ternak saya juga mati,” imbuh Nisman dengan tatapan sayu. Ia duduk bersama para lansia lainnya yang juga terdampak erupsi Gunung Semeru.
Kesedihan Sugiha yang Tak Terucapkan
Curahan hati serupa juga disampaikan oleh Sugiha, warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang. Ia masih mengingat jelas kengerian saat guguran awan panas meluncur dari puncak Gunung Semeru.
“Seperti abu panas bergulung-gulung, materialnya segini-segini (menunjukkan kepalan tangan yang artinya material vulkanik besar-besar). Saat itu ya (posisi) saya di rumah,” tutur Sugiha.
Nasibnya pun tak jauh berbeda dengan Nisman. Rumah Sugiha di Dusun Sumbersari ludes tertimbun material vulkanik. Ngenesnya lagi, tak ada satu pun barang-barang di rumahnya yang bisa diselamatkan.
“Habis. Ada yang tertimbun, ada yang habis. Nggak ada (barang yang diselamatkan), nggak bisa diambil juga karena tertimbun semua (sama material vulkanik Gunung Semeru),” ucapnya lirih.
Kronologi Singkat Erupsi Gunung Semeru
Erupsi Gunung Semeru terjadi pada Rabu (19/11) pukul 14.13 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 MDPL. Awan panas berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik.
BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan ada dua kecamatan yang terdampak, yakni Pronojiwo dan Candipuro. Hingga Jumat pagi (21/11), jumlah warga yang mengungsi adalah 499 jiwa, dengan 21 rumah rusak parah, dan 124 hewan ternak mati.
Para pengungsi tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya SD 04 Supiturang, Balai Desa Oro-oro Ombo, Masjid Ar-Rahman, SD Sumberurip 02, Rumah Kepala Desa Sumbernujur, dan Kantor Kecamatan Candipuro.
Dampak yang Menyentuh Hati
Pengalaman Nisman dan Sugiha adalah contoh nyata dari dampak bencana alam yang sangat menyentuh hati. Mereka tidak hanya kehilangan rumah dan hewan ternak, tetapi juga kehilangan segala sesuatu yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Proses pemulihan akan memakan waktu yang cukup lama, namun komunitas dan pemerintah terus berupaya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada para korban.
Selain itu, kejadian ini juga menjadi pengingat penting tentang perlunya kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana alam, serta pentingnya persiapan dan mitigasi bencana. Dengan adanya sistem peringatan dini dan edukasi yang baik, masyarakat dapat lebih siap menghadapi situasi darurat seperti ini.
Langkah-Langkah yang Dilakukan
Beberapa langkah telah diambil oleh pihak berwenang untuk membantu para pengungsi. Selain penyediaan tempat pengungsian, pihak BPBD dan lembaga bantuan sosial juga memberikan logistik seperti makanan, air minum, dan perlengkapan dasar lainnya. Tim medis juga turut serta untuk memastikan kesehatan para pengungsi tetap terjaga.
Selain itu, penelitian dan pemantauan terus dilakukan oleh PVMBG untuk memperkirakan potensi erupsi berikutnya dan memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Dengan data yang akurat, masyarakat dapat lebih waspada dan cepat merespons jika terjadi peristiwa serupa.
Harapan Masa Depan
Meski situasi saat ini masih sulit, harapan untuk pulih dan bangkit kembali terus dipegang oleh para korban. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat luas, semoga segera tercipta kondisi yang lebih stabil dan aman bagi semua pihak yang terkena dampak erupsi Gunung Semeru.
