News

Dampak Perubahan Harga Pakan pada Harga Ayam dan Telur

Penanganan Fluktuasi Harga Jagung untuk Stabilitas Harga Produk Peternakan

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil langkah-langkah strategis untuk menangani fluktuasi harga jagung, yang merupakan bahan pokok pakan ternak. Langkah ini dilakukan agar tidak berdampak pada kenaikan harga produk peternakan seperti telur dan daging ayam. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyampaikan bahwa tindakan cepat diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas ekonomi di sektor pertanian.

Sejak awal Oktober 2025, pemerintah memberikan tugas kepada Perusahaan Umum Bulog untuk mendistribusikan 52,4 ribu ton jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini ditujukan untuk 2.109 peternak mandiri di 16 provinsi. Harga jagung dalam SPHP ditetapkan sebesar Rp 5.000 per kilogram di gudang Bulog dan maksimal Rp 5.500 per kilogram di tingkat peternak.

Arief menjelaskan bahwa pemerintah akan menutupi selisih harga yang dibebankan kepada Bulog melalui anggaran Bapanas senilai Rp 78,6 miliar. Dengan asumsi subsidi sebesar Rp 1.500 per kilogram, diharapkan program SPHP dapat membantu menekan gejolak harga pakan ternak yang berdampak pada harga daging ayam dan telur.

Harga Acuan Jagung dan Realita Pasar

Bapanas telah menetapkan harga acuan penjualan (HAP) jagung pipilan di tingkat konsumen dalam Peraturan Bapanas Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp 5.800 per kilogram untuk jagung pipilan kering dengan kadar air 15 persen. Namun, pantauan terhadap situs panel harga pangan Bapanas menunjukkan bahwa harga jagung nasional mencapai Rp 6.516 per kilogram pada 4 Oktober 2025. Angka ini meningkat sebesar 12,34 persen dari HAP yang ditetapkan.

Delapan provinsi mengalami disparitas harga tertinggi, dengan Papua Barat Daya menjadi wilayah dengan harga tertinggi, yaitu Rp 8.500 per kilogram. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di beberapa daerah.

Distribusi Jagung SPHP ke Sentra Peternakan

Penyaluran perdana SPHP jagung telah tiba di sejumlah sentra peternakan unggas, seperti Kabupaten Kendal di Jawa Tengah serta Kabupaten Blitar, Malang, dan Trenggalek di Jawa Timur. Hingga 2 Oktober 2025, koperasi dan asosiasi peternak di daerah tersebut telah menerima hampir 300 ton jagung.

Kabupaten Kendal mendapat alokasi tertinggi, yaitu 7.060 ton. Alokasi ini terdiri dari 201 ton untuk peternak mikro, 5.792 ton untuk peternak kecil, dan 1.067 ton untuk peternak menengah. Kabupaten Blitar menempati urutan kedua dengan alokasi 6.131 ton, terdiri dari 45 ton untuk peternak mikro, 5.906 ton untuk peternak kecil, dan 180 ton untuk peternak menengah.

Sementara itu, Kabupaten Malang memperoleh 4.518 ton, dengan rincian 15 ton untuk peternak mikro, 3.846 ton untuk peternak kecil, dan 657 ton untuk peternak menengah. Distribusi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung sektor peternakan melalui pasokan jagung yang terjangkau.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan harga jagung dapat stabil, sehingga memberikan dampak positif terhadap harga produk peternakan secara keseluruhan. Ini juga menjadi upaya untuk menjaga kesejahteraan para peternak dan konsumen di seluruh Indonesia.

Penulis: Nida’an Khafiyya