Teknologi

Dosen Kehutanan Unhas Beberkan Penyebab Banjir Bantaeng dan Solusinya

Penyebab Banjir di Bantaeng dan Solusi yang Dicoba

Banjir yang terjadi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, disebut sebagai dampak dari beberapa faktor yang saling terkait. Salah satu penyebab utama adalah curah hujan yang tinggi, yang memicu aliran air yang besar. Namun, tidak hanya itu, perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu juga turut berkontribusi terhadap kejadian banjir tersebut.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Putri Nurdin, menjelaskan bahwa alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air secara efektif. Vegetasi hutan biasanya berperan sebagai penyerap air saat hujan deras terjadi. Namun, ketika lahan tersebut berubah menjadi lahan pertanian, air hujan lebih cepat mengalir langsung ke sungai dalam jumlah besar.

Selain itu, penyempitan bagian hilir sungai juga menjadi faktor pemicu risiko banjir. Pertumbuhan permukiman di sekitar sungai menyebabkan aliran air yang sebelumnya lancar menjadi terhambat. Hal ini memperparah kondisi banjir, terutama saat debit air meningkat akibat hujan deras.

Putri menegaskan bahwa alih fungsi lahan di hulu memiliki dampak signifikan terhadap sistem aliran air. “Air yang seharusnya terserap oleh tanah dan vegetasi kini mengalir langsung ke sungai dalam volume besar,” ujarnya.

Upaya Mitigasi Banjir oleh Pemkab Bantaeng dan Unhas

Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Kabupaten Bantaeng bersama tim dari Fakultas Kehutanan Unhas telah melakukan berbagai langkah mitigasi banjir. Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari rencana pembangunan tahun 2026.

Sejak Mei 2025, pemerintah daerah bekerja sama dengan tim kebencanaan Unhas untuk melakukan investigasi lapangan dan pemetaan kondisi sungai. Hasil kajian tersebut membantu menentukan berbagai opsi penanganan banjir yang dapat diterapkan.

Salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan adalah pembangunan waduk tunggu. Waduk ini dirancang untuk menahan sementara debit air tinggi sebelum dialirkan secara bertahap. Dengan demikian, risiko banjir dapat diminimalkan.

“Kami sudah menyusuri sungai dan menyiapkan beberapa opsi. Waduk tunggu menjadi salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan,” jelas Putri.

Pentingnya Tata Kelola Lingkungan dan Ruang

Upaya penanganan banjir tidak hanya bertujuan untuk mengurangi risiko bencana, tetapi juga untuk memperkuat tata kelola lingkungan dan pemanfaatan ruang yang lebih aman. Dengan memperhatikan aspek lingkungan dalam perencanaan pembangunan, diharapkan masyarakat Bantaeng dapat hidup dalam kondisi yang lebih stabil dan aman.

Beberapa langkah lain yang sedang dipertimbangkan antara lain:

  • Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem alami.
  • Pengembangan infrastruktur drainase yang lebih baik.
  • Pembatasan pembangunan di area rawan banjir.

Dengan pendekatan yang sistematis dan kolaboratif, diharapkan Bantaeng dapat menjadi contoh dalam pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana.


Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya