News

Film Sukma dan Lembayung Jadi Sorotan di Korea, Baim Wong Siapkan Remake Tunnel

Baim Wong Berencana Meremake Film Korea “Tunnel” dengan Pendekatan Lokal

Baim Wong, yang dikenal sebagai aktor sekaligus sutradara ternama di Indonesia, kini tengah menghadapi tantangan baru dalam kariernya. Dua film garapannya, “Sukma” dan “Lembayung”, sukses menembus pasar internasional dan menjadi bahan perbincangan di berbagai negara, termasuk Korea Selatan. Meski begitu, Baim justru menunjukkan ketertarikan terhadap film-film Korea, seperti “Tunnel”.

Film “Tunnel” sempat membuat Baim tertarik setelah ia menontonnya di Garuda kemudian melanjutkannya di Netflix. Tidak hanya itu, Baim juga mendapat tawaran untuk melakukan remake terhadap film tersebut. Proyek ini akan menjadi kolaborasi antarnegara yang menantang bagi Baim, yang saat ini lebih fokus pada dunia sutradara.

Sejak awal, Baim tidak langsung menerima tawaran ini. Ia memastikan bahwa proyek ini layak dilakukan dengan mempelajari detail-detailnya secara mendalam. Menurut Baim, proses menuju kerja sama ini tidak instan, melainkan melalui pertimbangan panjang dan beberapa pertemuan lintas negara.

“Pertama kali ditawarkan, banyak sekali versi remake, termasuk dari beberapa PH luar negeri. Tapi yang terakhir ini berbeda — mereka terlihat sangat serius,” ujar Baim.

Untuk memastikan keseriusan pihak Korea, tim produksinya harus bolak-balik antara Korea dan Jakarta hingga empat sampai lima kali. Baim menjelaskan bahwa mereka hanya akan terlibat jika pihak Korea benar-benar serius dan memiliki visi yang selaras.

“Kami baru mau terlibat kalau mereka juga benar-benar serius. Kalau hanya sekadar menawarkan, kami tidak tertarik. Karena membuat film itu sulit — harus ada ketertarikan dan kesungguhan,” tambahnya.

Menurut Baim, kerja sama ini bukan semata-mata tentang proyek internasional, tetapi juga upaya untuk membawa nama Indonesia ke panggung perfilman Asia. Ia ingin menunjukkan bahwa Indonesia bisa menghasilkan film berkualitas yang mampu bersaing di tingkat global.

“Kami ingin berbeda, ingin hasilnya bagus, dan satu lagi — kami ingin Indonesia ada di sana,” tegas Baim.

Di sisi lain, Baim juga mencuri perhatian publik lewat unggahannya di Instagram yang disukai oleh sejumlah figur publik. Dalam unggahan tersebut, ia mengungkap bahwa dua filmnya sebelumnya, “Sukma” dan “Lembayung”, ternyata telah menarik perhatian hingga ke Korea.

“Awalnya coba-coba, tapi sepertinya Sukma dan Lembayung beritanya sudah sampai di Korea. Tambah ke sini, tambah genre yang susah dan budget-nya juga nggak main-main. Bukannya tegang malah excited!” tulis Baim.

Baim kini tengah mempersiapkan remake film Korea berjudul “Tunnel”, yang menurutnya, menjadi salah satu film paling berkesan. “Tunnel, jadi salah satu film paling berkesan, dan sekarang dapat kesempatan untuk remake filmnya,” ujarnya.

Menariknya, Baim menyebut bahwa pihak Korea memberikan keleluasaan penuh dalam penyesuaian skenario agar bisa mencerminkan konteks Indonesia. “Poin paling penting, saya dikasih keleluasaan mengubah skenario, tidak harus seperti film aslinya. Di situ saya mau terima tawarannya, setelah berbulan-bulan kita meeting,” jelasnya.

Film “Tunnel” versi Indonesia dijadwalkan mulai syuting pada tahun 2026, dengan penggabungan unsur teknis kelas dunia dan narasi emosional khas Asia. Meski diadaptasi dari karya Korea, Baim menegaskan bahwa identitas lokal akan tetap menjadi kekuatan utama proyek ini.


Penulis: Nida’an Khafiyya