News

Harga Emas Stagnan, Ini Penyebabnya

Pergerakan Harga Emas yang Stagnan

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pergerakan harga emas dan logam mulia saat ini berada dalam kondisi stagnan. Hal ini terjadi setelah gejolak geopolitik di Timur Tengah sedikit meredup karena Hamas menerima proposal gencatan senjata dari Presiden AS Donald Trump.

“Untuk logam mulia, kemungkinan besar masih akan stagnan, dengan kisaran harga sekitar Rp2,15 juta hingga Rp2,21 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam pernyataannya.

Menurutnya, kestabilan harga emas juga dipengaruhi oleh penurunan ketegangan di wilayah Timur Tengah. Dengan diterimanya proposal Trump oleh Hamas, terdapat harapan bahwa perdamaian dapat tercapai, terutama di wilayah Gaza. Negara-negara muslim Arab juga memberikan dukungan terhadap langkah tersebut, sehingga memperkuat potensi perdamaian di kawasan tersebut.

Selain itu, faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut memengaruhi harga logam mulia. Setelah sempat tertekan, rupiah kembali menguat, yang membuat harga emas tidak mengalami peningkatan signifikan.

“Rupiah mengalami penguatan setelah sempat anjlok ke level kisaran Rp16.600-Rp16.700 per dolar AS. Sekarang rupiah berada di sekitar Rp16.500-an per dolar AS. Penguatan ini menyebabkan logam mulia tetap stagnan,” jelas Ibrahim.

Prediksi Harga Emas dan Dolar

Ibrahim memprediksi bahwa harga emas dunia pada perdagangan Senin (6/10/2025) akan bergerak di level support 3.854,8 dolar AS per troy ons, dengan resisten di 3.916,5 dolar AS per troy ons. Untuk sepanjang pekan depan, harga emas diperkirakan akan bergerak antara level support 3.823,9 dolar AS per troy ons dan resisten 3.955,17 dolar AS per troy ons.

“Mencapai level 4.000 dolar AS per troy ons sangat sulit,” tambahnya.

Sementara itu, dolar AS diperkirakan akan berada di level 97,4 pada Senin, dengan resisten di 97,9. Untuk sepanjang minggu, dolar AS diperkirakan bergerak antara level 97 sebagai support dan 98,5 sebagai resisten.

Prospek Emas yang Masih Mengilap

Meski diprediksi bergerak stagnan, Ibrahim menilai bahwa harga emas masih memiliki prospek yang baik di masa depan. Dinamika geopolitik di Eropa dan Timur Tengah tetap menjadi faktor penggerak harga emas.

Di Eropa, konflik antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung. Para menteri keuangan negara G7 telah mengambil langkah untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia, terutama terkait pembelian minyak Rusia. Di sisi lain, intelijen Ukraina melakukan pengintaian terhadap infrastruktur energi Rusia, yang bertujuan untuk memudahkan serangan menggunakan misil dan drone.

“Ketegangan di Eropa semakin meningkat, terutama setelah Presiden Trump membahas masalah perang di Eropa bersama jenderal-jenderal di Gedung Putih dan Pentagon. Ini membuat masyarakat kembali melindungi asetnya dengan membeli logam mulia sebagai safe haven,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintahan federal AS masih dalam kondisi tutup. Namun, Kongres AS antara Partai Republik dan Partai Demokrat terus berupaya mencari solusi win-win untuk anggaran batas atas. Kemungkinan besar, partai-partai ini akan sepakat untuk tidak memotong anggaran kesehatan maupun militer.

Proyeksi Suku Bunga dan Harga Emas

Data pengangguran AS pada bulan September relatif stabil, yaitu 4,3 persen. Ibrahim berpandangan bahwa data ini bisa meningkat pada Oktober 2025, sehingga The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC bulan Oktober.

“Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga mencapai 98 persen, dengan sisanya 50 bps. Hingga akhir tahun, kemungkinan ada dua kali penurunan suku bunga sebesar 50 bps,” jelasnya.

Secara teknikal, fundamental, dan supply-demand, harga emas diperkirakan bisa mencapai 4.000 dolar AS per troy ons. Jika rupiah terus menguat, harga logam mulia bisa mencapai Rp2,5 juta per gram untuk logam mulia 199,99 dan emas perhiasan 24 karat.

Penulis: Nida’an Khafiyya