Pergerakan IHSG Pagi Ini Mengalami Kenaikan
Pada perdagangan hari ini, Rabu (17/12/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan kenaikan sebesar 0,26% ke level 8.709,38. Pergerakan indeks ini tercatat mengalami perubahan antara 8.699 hingga 8.717. Total volume perdagangan saham mencapai 1,14 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp650,63 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 101.991 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, tercatat 314 saham menguat, 126 saham melemah, dan 194 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar atau market cap Bursa tercatat mencapai Rp16.018 triliun. Di antara saham-saham besar, beberapa emiten seperti TLKM, AMMN, dan EMTK terpantau menguat. Saham TLKM naik 1,14% atau 40 poin ke level harga Rp3.560 per lembar. Saham AMMN juga meningkat 1,88% atau 125 poin ke posisi Rp6.775 per lembar. Sementara itu, saham EMTK tercatat menguat 1,02% atau 15 poin ke level Rp1.485 per lembar.
Di sisi lain, beberapa saham mengalami penurunan. Saham BMRI turun 0,80% ke posisi Rp4.960 per lembar, sedangkan saham BBCA terkoreksi 0,62% menuju level Rp8.025 per lembar.
Top Gainers Pagi Ini
Dari daftar top gainers pagi ini, saham RLCO menjadi yang teratas dengan kenaikan sebesar 24,82% atau 170 poin ke level harga Rp855 per lembar. Saham MUTU juga melonjak 24,62% atau 32 poin ke posisi Rp162 per lembar. Tak ketinggalan, saham Superbank (SUPA) yang baru saja listing di BEI juga terbang 24,41% atau 155 poin ke level harga Rp790 per lembar.
Prediksi dari Analis Sekuritas
Tim analis MNC Sekuritas memprediksi bahwa indeks komposit berisiko lanjut koreksi di rentang 8.464–8.560 pada perdagangan hari ini. Meskipun IHSG menguat 0,43% ke level 8.686,46 pada penutupan perdagangan kemarin, penguatan tersebut masih dibayangi dominasi tekanan jual.
Menurut prediksi MNC Sekuritas, IHSG saat ini berada di awal wave [iv] dari wave 5 pada label hitam. Kondisi ini membuka peluang koreksi lanjutan untuk menguji area 8.464–8.560 sekaligus menutup celah gap tipis. Dalam skenario terburuk, IHSG diperkirakan telah menyelesaikan wave (1) dan berpotensi terkoreksi lebih dalam menuju area 8.000-an.
Level support IHSG diperkirakan berada di area 8.553 dan 8.493, sementara level resistansi berada di kisaran 8.714 hingga 8.821. Beberapa saham yang direkomendasikan oleh MNC Sekuritas antara lain ADRO, BRIS, JPFA, dan TOWR.
Perspektif dari Phintraco Sekuritas
Sementara itu, Tim Riset Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa investor cenderung berhati-hati menjelang pengumuman hasil RDG BI yang akan dirilis pada hari ini. BI diperkirakan akan mempertahankan BI Rate pada level 4,75% di tengah pelemahan rupiah. Secara teknikal, negative slope MACD semakin melebar, namun Stochastic RSI berada di area oversold dan berpotensi membentuk Golden Cross.
IHSG berhasil ditutup di atas level MA5. Jika IHSG mampu bertahan ditutup di atas level 8.750, maka indeks berpotensi melanjutkan penguatan. Namun jika tidak, diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi dalam kisaran 8.600–8.750.
Kebijakan Bea Keluar untuk Batu Bara
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan RI memastikan tarif bea keluar untuk komoditas batu bara akan diberlakukan mulai 1 Januari 2026, dengan perkiraan tarif berkisar antara 1% hingga 5%. Kebijakan ini diperkirakan akan berdampak terhadap penurunan marjin laba untuk emiten batu bara yang orientasi ekspornya relatif besar. Di lain sisi, kebijakan ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara.
Sebelumnya, bea keluar emas sudah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan yang juga mulai berlaku 1 Januari 2026, dengan besaran tarif berkisar 7,5%-15%.
Perkembangan Global
Dari global, data nonfarm payrolls meningkat 64.000 pada bulan November, melampaui ekspektasi sebesar 50.000 dan di atas penurunan 105.000 pada bulan Oktober. Tingkat pengangguran pada bulan November naik menjadi 4,6%, dibandingkan dengan perkiraan 4,5%. Ini adalah level tertinggi dalam lebih dari empat tahun, yang menggarisbawahi kekhawatiran baru-baru ini tentang perlambatan di pasar tenaga kerja AS.
Data ini dirilis beberapa hari sebelum data CPI untuk bulan November, yang juga akan dicermati oleh investor. Data pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan utama the Fed untuk memangkas suku bunga.
