Stimulus Pemerintah untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah telah mengumumkan sejumlah kebijakan dan program stimulasi tambahan pada kuartal akhir tahun ini, dengan tujuan memperkuat pertumbuhan ekonomi. Berbagai inisiatif diterapkan untuk mendorong sektor-sektor strategis, seperti pariwisata, UMKM, transportasi, dan konsumsi masyarakat.
Salah satu program yang dijalankan adalah magang bagi lulusan baru (fresh graduate) hingga satu tahun melalui platform SIAPkerja. Program ini akan dimulai pada 15 Oktober dan melibatkan BUMN serta perusahaan swasta di bawah koordinasi Kadin. Dengan demikian, para lulusan baru memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja yang berharga.
Di sektor pariwisata, pemerintah memberikan insentif berupa pembebasan pajak PPh Pasal 21 bagi pekerja yang gajinya di bawah Rp10 juta. Insentif ini mencakup sekitar 552.000 pekerja di hotel, restoran, dan kafe. Sebelumnya, pekerja sektor padat karya juga mendapat insentif serupa, sehingga menunjukkan komitmen pemerintah dalam membantu sektor yang terdampak pandemi.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan kepada 18,3 juta keluarga penerima manfaat, berupa beras dan minyak goreng. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan memastikan kebutuhan pokok tetap terpenuhi.
Dalam hal perlindungan sosial, diskon iuran JKK-JKM diberikan kepada 731.000 pekerja sektor transportasi. Selain itu, program perumahan BPJS Ketenagakerjaan ditargetkan dapat mendukung pembangunan 100.050 unit rumah. Diperkirakan, sektor pekerjaan umum dan perhubungan akan menyerap sekitar 215.000 tenaga kerja hingga akhir tahun.
Insentif Fiskal untuk Tahun Depan
Pemerintah juga menyiapkan insentif fiskal yang berlanjut hingga tahun 2029. Misalnya, PPh 21 sektor pariwisata dan padat karya berlaku hingga 2026, disertai insentif PPN DTP rumah hingga Rp2 miliar serta KUR perumahan senilai Rp130 triliun. Untuk UMKM, PPh final 0,5% atas omzet hingga Rp4,8 miliar diperpanjang sampai 2029.
Stimulus Konsumsi Akhir Tahun
Untuk mendorong konsumsi masyarakat, pemerintah menyiapkan berbagai diskon transportasi selama momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. PT KAI memberikan diskon 30% untuk 1,5 juta penumpang antara 22 Desember hingga 10 Januari. Pelni menyediakan potongan 20% bagi 405 ribu penumpang kapal laut. ASDP menargetkan 227 ribu penumpang dan 491 ribu kendaraan mendapat keringanan tarif jasa pelabuhan. Sementara maskapai penerbangan menawarkan diskon tiket 12–14% bagi sekitar 36 juta penumpang.
Di sisi ritel, pemerintah mendukung Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada 10–16 Oktober, yang diproyeksikan menciptakan permintaan hingga Rp35 triliun. Selain itu, agenda Belanja Diskon Indonesia dan Retail Epic Sale digelar bersama stimulus Natal dan Tahun Baru.
Target Pertumbuhan Ekonomi 5,2%
Melalui berbagai stimulus tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keyakinannya bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada tahun ini dapat tercapai. Ia menjelaskan bahwa program unggulan pemerintah akan terus dipercepat implementasinya hingga akhir tahun.
Namun, beberapa lembaga global seperti IMF, OECD, dan Japan Credit Rating memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,8%–4,9% pada 2025. Asian Development Bank (ADB) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 4,9% pada 2025, karena ketidakpastian perdagangan global akibat tingginya tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
ADB juga memangkas proyeksi inflasi di Indonesia dari 2% menjadi 1,7% pada 2025. Sementara untuk tahun depan, inflasi Indonesia tetap diramalkan di level 2%.
