SURABAYA, Publica.id
Pergantian tahun biasanya selalu ditandai dengan pesta kembang api yang menghiasi langit malam. Namun, menjelang Tahun Baru 2026, suasana di Surabaya, Jawa Timur, terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Lapak-lapak penjual kembang api yang biasanya ramai, kini tampak lengang. Hal ini terjadi beberapa hari sebelum perayaan Tahun Baru, setelah adanya imbauan pemerintah untuk merayakan pergantian tahun secara sederhana.
Selain itu, kondisi ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penjualan kembang api menurun tajam. Hani Ananda Prasetyo, seorang penjual kembang api di Jalan Pasar Kembang, mengatakan bahwa penjualan tahun ini jauh lebih sepi dibandingkan tahun lalu.
“Beda jauh sekali. Untuk tahun ini sepi banget, karena ada himbauan dari pemerintah tidak boleh menyalakan kembang api,” ujarnya.
Menurut Hani, kekhawatiran masyarakat terhadap aturan tersebut membuat mereka enggan membeli kembang api. Selain itu, situasi ekonomi yang kurang stabil juga membuat orang lebih memilih menghemat pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari.
“Omset ya turun,” tambahnya.
Kondisi ini sangat berbeda dengan pola penjualan normal di tahun-tahun sebelumnya, di mana penjualan biasanya mencapai puncak beberapa hari sebelum malam pergantian tahun.
“Kalau sekarang sepi, jauh hampir 50 persen penurunannya karena himbauan tersebut,” katanya.
Stok Terlanjur Datang, Permintaan Bergeser ke Kembang Api yang Lebih Aman
Masalah semakin berat bagi Hani dan para penjual lainnya karena persiapan penjualan sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum imbauan dikeluarkan.
“Untuk persiapan kembang api ini sudah sejak awal bulan Desember. Jadi barang-barang sudah datang dan imbauannya beberapa waktu terdekat. Makanya imbasnya kelihatan banget,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hani menyebutkan bahwa beberapa pembeli sudah terlanjur membeli dalam jumlah besar, bahkan sampai meminta pengembalian dana.
“Terus ya gimana lagi mereka mintanya dikembalikan. Ya kita tidak bisa nolak karena memang tidak bisa dipakai juga, solusinya ya kita simpan untuk dijual pada waktu Lebaran,” katanya.
Menurut Hani, barang yang disediakan adalah impor langsung dari China, melalui Jakarta terlebih dahulu sebelum dikirim ke Surabaya. Sistemnya adalah barang dititipkan, dan jika laku maka pembayaran dilakukan.
Meski penjualan menurun, Hani mengatakan bahwa permintaan belum sepenuhnya berhenti.
Ia menyebut, saat ini pembeli lebih selektif dan cenderung memilih jenis kembang api yang dinilai lebih aman.
“Untuk kembang api yang dipersiapkan sebenarnya tiap tahun sama kurang lebihnya untuk yang pesta-pesta menggunakan yang sekali bakar bisa 100-300 tembakan itu yang harganya lebih mahal,” ujarnya.
“Untuk saat ini masih tetap ada yang beli, mulai pedagang kaki lima kulakan untuk dijual lagi. Jadi ya sekarang sasarannya ya individu meskipun ada penurunan drastis,” tambah Hani.
Sementara itu, jenis kembang api sederhana masih dicari untuk penggunaan keluarga. Mayoritas pembeli tetap berasal dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.
“Dibandingkan yang seperti pipa itu lebih mudah Rp 40.000 isinya per pax empat batang. Lain-lainnya yang dicari air mancur kalau pas dibakar nyembur ke atas dengan tinggi dua meter biasanya buat anak-anak,” katanya.
“Ada yang dijual lagi, ada yang untuk dipakai sendiri di rumah atau dibawa liburan. Untuk pembelian minimal per pax mulai dari harga Rp 30.000 sampai Rp 3 juta tergantung kembang apinya,” ujarnya lagi.
Pedagang Harap Ada Kelonggaran untuk Skala Kecil
Hani berharap kebijakan pemerintah bisa membedakan antara penggunaan skala besar dan kecil.
“Ya kalau bisa begini, misalnya untuk main kembang api untuk pribadi minta tolong diperbolehkan tapi kalau event-event tahun baru tidak boleh ya tidak apa-apa karenakan skala besar,” katanya.
“Tapi, kalau skala kecil seperti di rumah atau mainan bersama tetangga dan keluarga ya diperbolehkan karenakan setahun sekali untuk merayakan malam tahun baru juga,” ujar Hani melanjutkan.
