JAKARTA — Perseroan pengelola jaringan restoran cepat saji KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) masih mengalami dampak dari aksi boikot terhadap produknya hingga saat ini. Meskipun tekanan boikot mulai berkurang, perusahaan tetap merasakan penurunan kinerja keuangan.
Boikot terhadap produk KFC terjadi sebagai respons terhadap konflik di kawasan Timur Tengah. Masyarakat menilai bahwa KFC memiliki hubungan yang mendukung Israel, sehingga memicu tindakan boikot secara global. Hal ini turut memengaruhi operasional dan kinerja bisnis KFC di Indonesia.
Direktur FAST, Wachjudi Martono, menyampaikan bahwa dampak boikot masih dirasakan hingga tahun 2025, meski tekanannya sedikit berkurang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. “Keadaan mencair, akan tetapi masih ada [dampak boikot],” ujarnya dalam sebuah acara publik.
Sementara itu, Direktur FAST lainnya, Dio May Avico, menjelaskan bahwa boikot menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan perseroan masih mencatatkan kerugian. Ia menambahkan bahwa penurunan daya beli masyarakat, dampak boikot yang masih terasa hingga 2025, serta pergeseran preferensi konsumen terhadap makanan lebih sehat juga turut berkontribusi pada kerugian perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan per kuartal III/2025, FAST mencatatkan rugi bersih sebesar Rp239,58 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 56,99% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan dengan rugi bersih sebesar Rp557,08 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski rugi berkurang, pendapatan FAST juga mengalami penurunan sebesar 0,76% YoY menjadi Rp3,56 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan dengan Rp3,59 triliun per kuartal III/2024. Namun, perseroan berhasil menurunkan beban pokok pendapatan sebesar 4,99% YoY menjadi Rp1,43 triliun.
Selain itu, beberapa beban operasional juga mengalami penyusutan. Beban penjualan dan distribusi turun dari Rp2,09 triliun menjadi Rp1,91 triliun. Beban umum dan administrasi juga berkurang dari Rp572,03 miliar menjadi Rp523,51 miliar. Sementara itu, beban operasi lain turun dari Rp36,95 miliar menjadi Rp31,97 miliar.
Untuk menghadapi situasi ini, FAST melakukan berbagai langkah efisiensi. Salah satunya adalah mengurangi jumlah gerai dan tenaga kerja. Sepanjang tahun 2025, perseroan telah memangkas 20 gerai KFC. Per 30 September 2025, perseroan mengoperasikan 695 gerai, dibandingkan dengan 715 gerai pada akhir tahun 2024.
Selain itu, jumlah karyawan FAST juga berkurang sebanyak 1.041 orang sepanjang tahun 2025. Per 30 September 2025, perseroan memiliki 12.065 karyawan, turun dari 13.106 karyawan pada akhir tahun 2024.
Langkah-langkah efisiensi ini diharapkan dapat membantu perseroan menghadapi tantangan pasar dan memperbaiki kinerja keuangan di masa depan. Meski masih menghadapi tantangan, FAST tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas layanan dan kepuasan pelanggan.
