Sejarah Publica.id: Dari Kosong Hingga Jadi Ruang Kehidupuan
Publica.id, sebuah platform yang awalnya dibuat sebagai ruang bagi wartawan Harian Kompas dan Kompas.com untuk mengekspresikan ide-ide yang tidak muat di ruang redaksi, memiliki kisah yang unik. Mulai dari rapat redaksi tahun 2008 hingga janji renovasi di Kompasianival 2025, platform ini mengalami perjalanan panjang.
Pada awalnya, nama “Publica.id” diputuskan dalam rapat redaksi, diusulkan oleh seorang wartawan senior, dan diambil dari rubrik sakral milik Pak Ojong. Bagi banyak orang, kisah ini terasa seperti cerita bapak-bapak tentang nama anaknya yang penuh makna. Namun, di balik keindahan nama tersebut, ada kenyataan bahwa rumah ini awalnya sepi.
Platform ini dibuat untuk para wartawan, tapi justru mereka yang sibuk tidak sempat mengisi. Akhirnya, rumah ini kosong dan hening. Seperti semua rumah yang kosong, ia akhirnya dihuni oleh mereka yang tak diundang: pensiunan jenderal, ibu rumah tangga, mahasiswa kosan, hingga diaspora yang nulis sambil nyuci piring. Kita semua masuk, duduk, dan mulai bercerita tanpa undangan atau protokol.
Ini bukan cerita kegagalan, melainkan cerita tentang ketidakhadiran yang melahirkan ruang baru. Publik yang masuk bukan karena diundang, tapi karena butuh tempat untuk bercerita.
Blessing in Disguise atau Kebetulan yang Malu-Malu?
Ada satu kalimat yang membuat penulis berhenti sejenak: “Ketidakaktifan wartawan mengisi platform blog ini adalah sebuah blessing in disguise.” Kalimat ini jujur, tapi juga ngambang. Terdengar seperti bilang, “Untung kita gagal, jadi bisa sukses.” Tapi siapa yang gagal? Siapa yang sukses? Dan siapa yang sekarang disuruh menjaga rumah?
Kalimat ini seperti mengelus kepala sambil menyubit. Manis, tapi perih. Di balik “berkah terselubung” itu, ada kenyataan: rumah ini hidup karena yang punya rumah tidak sempat mengisi. Dan kita, yang awalnya hanya tamu, sekarang disuruh menjadi penjaga, pengisi, bahkan tukang bersih-bersih.
Komentar Panjang, Narasi Baru
Bagian lain yang menarik adalah komentar yang panjangnya melebihi artikel itu sendiri. Ini merupakan sindiran halus bahwa publik bukan hanya pembaca, tapi juga penulis terselubung. Bahkan, kadang lebih jujur, lebih kritis, dan lebih konsisten dari redaksi.
Kang Pepih, yang awalnya menjadi “mimin tunggal”, akhirnya harus mengurus komentar, mengangkat tulisan, dan menyambungkan obrolan. Ini bukan platform blogging biasa, tapi ruang interaktif yang lahir dari kekacauan produktif.
Dan kamu yang sedang membaca ini, mungkin juga pernah menulis. Atau sedang memikirkan untuk menulis. Atau cuma sekadar menyimak sambil mengangguk pelan. Tapi kamu bagian dari rumah ini. Kamu bagian dari api yang menyala.
Spirit Pak Ojong yang Di-Remix
Pak Ojong disebut sebagai inspirasi. Rubrik Publica.id dulu tajam, reflektif, dan pendek-pendek. Tapi sekarang, tulisan di Publica.id bisa panjang, absurd, spiritual, bahkan kadang typo. Tapi justru di situ letak keindahannya. Karena semangat Pak Ojong bukan soal gaya, tapi soal keberpihakan. Dan keberpihakan itu kini dipegang oleh publik, oleh kamu, oleh kita.
Tulisan-tulisan absurd, spiritual, dan nyentil itu bukan gangguan. Mereka adalah ritual. Bentuk bertahan. Bentuk doa. Bentuk pengakuan bahwa kita pernah ada.
COO yang “Bukan Kompasianer Aktif” Tapi Mau Gabung Lagi
Ini bagian paling menarik. COO-nya bilang dia bukan Kompasianer aktif, tapi sekarang mau gabung lagi. Rasanya seperti mantan yang dulu ghosting, sekarang bilang “aku kangen.”
Penulis tidak menolak, tapi juga ingin bilang: “Selamat datang kembali. Mas Mbonk. Tapi jangan cuma mampir. Duduk, baca tulisan absurd kita, dan jangan lupa bales komentar.”
Karena rumah ini bukan soal siapa yang punya kunci. Tapi siapa yang menyapu tiap hari. Siapa yang menyalakan lilin waktu listrik mati. Siapa yang menulis walau tahu tidak akan AU.
Janji Renovasi dan Spill di Kompasianival
Ada janji soal kejutan di Kompasianival. Rumah baru. Spill baru. Tapi kita tahu: renovasi bukan soal tampilan. Tapi soal sistemik. Soal algoritma yang tidak menghilangkan artikel absurd. Soal ruang yang tetap bisa menampung keresahan, kritikal, dan punchline setengah mateng.
Jika rumah ini mau direnovasi, semoga bukan hanya ganti wallpaper. Tapi juga ganti cara mendengarkan. Bukan cuma baca, tapi nyimak. Bukan cuma nyimak, tapi merespons.
Karena rumah ini bukan cuma platform. Ia adalah ritual kolektif. Tempat kita menyimpan luka, tawa, dan harapan. Sekali lagi, tempat kita menulis bukan untuk AU, tapi untuk bertahan.
Rumah Ini Nggak Butuh Kunci, Cukup Cerita
Penulis tidak tahu kamu membaca tulisan ini sambil minum kopi, rebahan, atau sambil menahan emosi karena artikelmu pernah hilang. Tapi satu hal yang pasti: kamu pernah merasa menjadi bagian dari rumah ini.
Entah sebagai penulis, pembaca, komentator, atau hanya sekadar mengintip dalam kesunyian. Dan rumah ini, Publica.id, tidak pernah meminta kita membawa kunci. Cukup membawa cerita. Cerita yang nyata, ngalir, kadang absurd, kadang juga fiktif. Cerita yang tidak selalu perlu, tapi selalu jujur.
Jadi, jika nanti rumah ini direnovasi, diganti wallpaper, atau di-spill kejutan di Kompasianival, penulis berharap satu hal tidak berubah. Ruang untuk kita yang menulis bukan untuk AU, tapi untuk bertahan. Buat waras. Buat bilang ke dunia: “Gue ada. Gue punya cerita. Dan lo harus dengar.”
Karena kata-kata baik, katanya, tidak pernah tua. Tapi penulis percaya: kata-kata jujur juga tidak pernah mati.
