Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman Tana Tidung Hadirkan Seni Bela Diri Tradisional Kuntau
Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman Tana Tidung, Kalimantan Utara, menjadi ajang yang memperkenalkan berbagai kesenian daerah yang kaya akan nilai budaya. Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilan seni bela diri tradisional Suku Tidung, yaitu Kuntau. Penampilan ini diadakan di panggung RTH Djoesoef Abdullah, Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Tana Tidung, pada malam hari Selasa (25/11/2025).
Kuntau atau yang juga dikenal dengan nama Tok Kawit merupakan salah satu bentuk seni bela diri yang dimiliki oleh masyarakat Suku Tidung. Aksi ini ditampilkan secara apik oleh lima orang seniman yang masih dalam usia remaja. Mereka membawakan tarian dengan penuh kepercayaan diri dan keahlian yang terlihat dari latihan yang telah mereka lakukan.
Efendy, Ketua Karang Taruna Kecamatan Sesayap Tana Tidung, mengatakan bahwa seni bela diri ini mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Ia menyampaikan bahwa Kuntau adalah bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan agar tidak hilang dari ingatan masyarakat.
“Kuntau atau Tok Kawit ini adalah salah satu seni bela diri tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Suku Tidung yang selama ini sudah mulai meredup,” ujarnya.
Festival ini menjadi wadah untuk mengenalkan kembali kesenian Kuntau kepada masyarakat luas, terutama generasi muda. Efendy menekankan bahwa tujuan utama dari penampilan ini adalah untuk memperkenalkan dan melestarikan seni bela diri tersebut.
“Dengan acara ini kita tampilkan kembali supaya masyarakat khususnya anak-anak muda yang ada di Kabupaten Tana Tidung bisa mengenal dan tahu ternyata suku Tidung punya seni bela diri sendiri dan kita di sini cuma untuk memeriahkan saja tidak dilombakan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa seni bela diri yang dulunya cukup diminati ini perlu dilestarikan kembali agar tidak menghilang dari budaya Suku Tidung. Dulu, Kuntau memiliki banyak peminat, bahkan beberapa dari mereka yang pernah mengikuti telah menjadi anggota TNI dan polisi.
“Tapi seiring waktu dan zaman mulai turun peminatnya jadi di sini lah momennya kita mengenalkan kembali untuk melestarikan lagi dan jangan sampai punah,” tambahnya.
Perbedaan Kuntau dengan seni bela diri lainnya, seperti silat, terletak pada kreasi jurusnya. Efendy menjelaskan bahwa bentuk bunganya berbeda dengan silat pada umumnya.
“Perbedaan kuntau dengan seni bela diri lainnya termasuk silat itu dari toknya atau jurusnya bentuk bunganya itu berbeda dengan silat pada umumnya,” jelasnya.
Pertunjukan yang memukau ini tidak dilakukan secara instan. Persiapan dilakukan selama kurang lebih dua minggu lamanya untuk memaksimalkan performa. Latihan-latihan yang telah dilakukan sebelumnya juga menjadi dasar dari penampilan yang sempurna.
“Kita dapat informasi untuk tampil itu kurang lebih dua minggu sebelumnya jadi kita persiapkan secara maksimal untuk tampil ya dalam waktu segitu juga, tapi sebelumnya kan mereka sudah biasa latihan juga,” tutupnya.
