Indonesia menghadapi peningkatan signifikan dalam kebutuhan kredit karbon, yang diproyeksikan naik hingga sepuluh kali lipat antara tahun 2022 hingga 2030. Tren ini membuka peluang bagi solusi-solusi inovatif dengan integritas tinggi, seperti teknologi alam (nature tech), pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV), serta layanan dekarbonisasi. Di sisi lain, Indonesia juga sedang mempersiapkan salah satu proyek energi bersih terbesar di Asia Tenggara. Rencana kelistrikan nasional baru menunjukkan bahwa sebanyak 70% kapasitas pembangkit baru akan berasal dari energi terbarukan, sehingga mendorong bauran energi menjadi sekitar 35% pada tahun 2034.
Bersamaan dengan perubahan ini, UD Impact, penyedia pendidikan kewirausahaan, mengumumkan MAJU:ON Hackathon 2025. Program akselerasi intensif ini bertujuan membantu mahasiswa dan founder mengubah ide mereka menjadi solusi siap pasar untuk isu lingkungan dan energi di Indonesia.
Saat ini, para regulator menuntut hasil yang terukur dan berintegritas, termasuk kebutuhan akan dampak iklim yang nyata. Founder harus mampu menyajikan manfaat riil bagi komunitas. “Kami memasangkan tim dengan mentor terbaik di bidangnya serta akses pasar agar mereka dapat memvalidasi masalah, membangun pilot yang bankable, lulus sebagai startup siap investasi, dan mampu menciptakan bisnis yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” kata Sunghwa Moon, Vice President UD Impact, dalam rilis yang diterbitkan Jumat (7/11).
Program ini dikembangkan bersama konsorsium universitas di Indonesia. MAJU:ON adalah program akselerasi intensif yang melibatkan pelatihan pitch berstandar investor, pendampingan 1:1, kuliah pakar, dan demo. Acara ini dibagi menjadi dua track, yaitu Student Track dan Early-Stage Track.
Student Track ditujukan untuk mahasiswa, dengan 16 tim yang terdiri dari sekitar 80 peserta. Sementara itu, Early-Stage Track menargetkan founder yang telah beroperasi maksimal tiga tahun sejak pendirian, dengan 10 tim dan sekitar 30 peserta.
Jonathan Davy, Co-Founder & CEO Ecoxyztem Venture Builder, menekankan bahwa pemerintah dan korporasi saja tidak cukup untuk membawa Indonesia menuju net-zero. “Kita butuh perusahaan berbasis founder yang mampu mengubah empati terhadap masalah lokal menjadi solusi yang layak dan skalabel,” ujarnya.
Selanjutnya, UD Impact akan meluncurkan program inkubasi pascahackathon bersama ANGIN Advisory dan hub universitas untuk mendorong tim unggulan bergerak dari prototipe menuju penerapan pertama. Tahap lanjutan ini akan fokus pada sektor-sektor dengan permintaan tertinggi, sehingga output hackathon benar-benar memberi dampak yang terukur.
