Visi Majalengka Langkung Sae yang Mengedepankan Perbaikan Berkelanjutan
Bupati Majalengka, Eman Suherman, menjelaskan bahwa konsep Majalengka Langkung Sae bukan sekadar slogan, tetapi merupakan visi utama yang menjadi dasar arah pembangunan Kota Angin Majalengka. Frasa ini sering kali disalahpahami sebagai perbandingan antara pemerintahan saat ini dan sebelumnya. Namun, maknanya jauh lebih dalam dan berakar pada nilai filosofis.
Eman menegaskan bahwa istilah “langkung sae” berasal dari kata “langkung”, yang berarti lebih baik dari hari kemarin, dan “sae” yang berarti baik. Secara keseluruhan, frasa ini mengajak masyarakat untuk terus memperbaiki diri, baik secara individu maupun bersama-sama sebagai komunitas. Ia menyatakan bahwa jika dikaitkan dengan perbandingan antara periode pemerintahan, ia sendiri adalah bagian dari masa lalu, sehingga tidak mungkin ia membandingkan dirinya sendiri.
Dia mengakui bahwa masih ada sebagian masyarakat yang memahami “langkung sae” sebagai bentuk pembanding kinerja antara periode pemerintahan. Untuk itu, ia menilai penting untuk memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan salah persepsi. Tujuannya adalah agar semua pihak memahami bahwa ini bukan soal siapa lebih baik dari siapa, melainkan bagaimana membuat Majalengka lebih baik dari hari kemarin.
Konsep “langkung sae” didasarkan pada sebuah hadis riwayat Al-Hakim. Dalam hadis tersebut, disebutkan tiga kategori manusia: mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang beruntung, yang sama adalah orang rugi, dan yang lebih buruk adalah orang tercela. Eman menjelaskan bahwa nilai dasar ini harus menjadi teladan bagi seluruh masyarakat. Jika ingin menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus terus berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Selain makna filosofis, “langkung sae” juga memiliki makna strategis. Eman mengungkapkan bahwa akronim SAE (Sahabat Akang Eman) merupakan simbol kedekatan antara dirinya, pemerintah daerah, dan seluruh warga Majalengka. Konsep sahabat ini dihadirkan untuk menekankan pemerintahan yang terbuka, tidak berjarak, dan mudah diakses. Masyarakat tidak boleh merasa canggung; semua posisi sebagai sahabat. Melalui kedekatan ini, pembangunan bisa dirangkul bersama.
Pendekatan ini sangat penting, terutama ketika Majalengka membutuhkan partisipasi masyarakat dalam berbagai program pemberdayaan. Dengan hubungan setara seperti sahabat, komunikasi dan kolaborasi diyakini dapat berjalan lebih efektif.
Pembangunan Inklusif dan Pemersatu
Dalam kesempatan tersebut, Eman menegaskan bahwa “langkung sae” dirancang untuk menjadi pemersatu, bukan pemecah. Pemerintah, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan masyarakat diposisikan dalam hubungan yang setara sebagai sahabat yang saling mengisi, saling menguatkan, dan saling mendukung. Ketika pemerintah dan masyarakat berjalan bersama, pembangunan bukan lagi beban satu pihak. Majalengka bisa melangkah lebih cepat karena semuanya bergerak satu tujuan.
Dengan pendekatan ini, Eman meyakini bahwa visi “Majalengka Langkung Sae” bukan hanya slogan, tetapi dapat menjadi budaya kerja dan sikap hidup yang melekat dalam keseharian masyarakat. Dia berharap penjelasan yang disampaikan dapat menghentikan perdebatan soal makna “langkung sae”. Menurutnya, ketika makna sudah dipahami dengan tepat, fokus semua pihak dapat kembali diarahkan pada pembangunan yang lebih efektif dan kolaboratif.
Harapan Masyarakat untuk Bersama-sama Membangun Majalengka
Eman menegaskan bahwa jika maknanya dipahami benar, maka tujuan kita sama, yaitu bagaimana Majalengka bisa lebih baik dari sebelumnya. Itulah “Langkung Sae”. Dengan pemahaman yang lebih utuh ini, Eman berharap masyarakat dapat ikut mengambil peran aktif dan bersama-sama mendorong terwujudnya Majalengka yang semakin maju dan sejahtera lagi.
