News

Maulid Nabi di Tolitoli, Ribuan Warga Tumpah Ruah Saksikan Bola Raksasa

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang Meriah di Tolitoli

Ribuan warga memadati Taman Kota Gaukan Mohammad Bantilan, Jumat malam (3/10), untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perayaan besar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tolitoli. Acara ini menarik perhatian banyak orang dengan hadirnya puluhan bola suji—miniatur masjid yang diisi dengan makanan khas—yang menjadi pusat perhatian para pengunjung.

Di bawah tenda besar dan pelataran parkir yang penuh sesak, warga larut dalam suasana meriah. Jalanan sekitar juga dipenuhi masyarakat yang datang dari berbagai penjuru daerah. Aroma makanan, lantunan selawat, dan cahaya lampu panggung berpadu menciptakan atmosfer yang jarang terlihat di kota kecil di pesisir utara Sulawesi Tengah ini.

Perayaan tersebut digelar secara besar-besaran, seiring kehadiran pejabat tinggi daerah. Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid bersama Wakil Gubernur Hj. Renny Lamadjido hadir mendampingi Bupati Amran Yahya, Wakil Bupati Moh. Besar Bantilan, serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Tolitoli.

Dalam sambutannya, Gubernur Anwar Hafid mengaku terkesan dengan skala perayaan yang menurutnya belum pernah ia saksikan sebelumnya. “Saya baru kali ini melihat Maulid semeriah ini. Bahkan bola suji yang dihadirkan nilainya bisa mencapai jutaan rupiah,” ujarnya sambil tersenyum, memicu tepuk tangan panjang dari para hadirin.

Bola suji—miniatur masjid yang dipenuhi makanan khas—merupakan tradisi khas daerah yang sudah berakar puluhan tahun. Namun, penampilan puluhan bola suji dalam satu perayaan sekaligus jarang terjadi, sehingga menambah nuansa spektakuler malam itu.

Bupati Amran Yahya menilai keberhasilan acara ini tak lepas dari kerja sama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan partisipasi masyarakat. “Inilah bukti bahwa Tolitoli bisa menunjukkan jati diri sekaligus menjaga tradisi keagamaan dengan penuh kebersamaan,” ucapnya.

Perayaan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan juga momentum sosial. Kehadiran ribuan warga memperlihatkan bagaimana nilai gotong royong dan kekuatan identitas lokal tetap hidup di tengah modernisasi. Banyak keluarga datang bersama anak-anak, sementara pedagang kecil memanfaatkan kesempatan untuk berjualan di sekitar lokasi.

Bagi sebagian warga, momen Maulid kali ini menjadi ajang silaturahmi. “Kami sudah lama tidak melihat Tolitoli seramai ini,” kata Rahma, seorang pengunjung yang datang dari kecamatan Galang. “Rasanya seperti lebaran kedua.”

Bola suji yang berderet di pelataran taman tidak hanya memamerkan kreativitas masyarakat, tetapi juga melambangkan kemurahan hati. Setiap bola diisi makanan untuk dibagikan kepada warga, mempertegas nilai berbagi yang menjadi inti peringatan kelahiran Nabi.

Tak sedikit warga yang mengabadikan perayaan dengan ponsel mereka. Media sosial pun dipenuhi unggahan foto dan video, memperluas gaung acara ini ke luar daerah. Di banyak postingan, Tolitoli mendapat sorotan positif sebagai tuan rumah Maulid dengan wajah baru: lebih inklusif, lebih meriah, dan penuh semangat kebersamaan.

Di balik pesta cahaya dan keramaian, terselip pula pesan religius yang disampaikan para ulama dan tokoh agama. Mereka mengingatkan bahwa esensi Maulid adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad, bukan sekadar perayaan fisik. Pesan itu diterima hangat oleh jamaah yang larut dalam lantunan salawat bersama.

Bagi Tolitoli, malam itu menjadi penanda: sebuah kota kecil di pesisir mampu menghadirkan perayaan berskala besar yang menyatukan pejabat, ulama, dan rakyat. Di tengah arus perubahan zaman, tradisi bola suji membuktikan diri tetap relevan—bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga perekat sosial.

Penulis: Nida’an Khafiyya