Memahami TKB90 dan Pentingnya Angka Ini dalam Pinjaman Online
TKB90, atau Tingkat Kebutuhan Bayar 90 Hari, adalah indikator penting yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan fintech lending. Angka ini menggambarkan seberapa baik sebuah platform dalam menagih angsuran hingga 90 hari setelah pinjaman diberikan. Jika seseorang gagal membayar pinjaman selama tiga bulan, kasus tersebut akan tercatat sebagai galbay (gagal bayar) dan memengaruhi nilai TKB90 perusahaan.
Semakin tinggi angka galbay, semakin rendah TKB90-nya, dan semakin besar risiko sanksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam beberapa tahun terakhir, OJK telah melihat peningkatan signifikan dalam jumlah galbay di berbagai aplikasi pinjaman online. Beberapa platform seperti Singa ID, TrustIQ, Dana Rupiah, KTA Kilat, dan OVO Financial mencatat angka galbay antara 96–97%. Sementara itu, aplikasi seperti Modal Rakyat, Pinjam Gampang, dan Kredito juga mengalami kondisi serupa.
Di sisi lain, beberapa aplikasi lain berhasil menjaga tingkat galbay yang lebih rendah. Misalnya, Dana Bagus, Solusiku, dan Lentera Dana Nusantara mencatat galbay hanya 5–10%, jauh di bawah standar. Angka ini bisa memicu sanksi berat dari OJK, mulai dari denda hingga pembekuan aktivitas.
Selain itu, ada delapan aplikasi lain yang masuk dalam daftar pengawasan khusus meskipun angka detail galbay tidak disebutkan secara spesifik. Aplikasi-aplikasi ini termasuk Akseleran, Dana Merdeka, UangMe, PinjamDuit, Dana Syariah, Cicil, Lumbung Dana, dan KrediOne. Meski data lengkap belum tersedia, keberadaan mereka dalam daftar ini menunjukkan adanya risiko yang perlu diperhatikan.
Masalah Mendasar: Ketidaktahuan dan Pengelolaan Risiko yang Buruk
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih banyak yang tidak memahami risiko meminjam melalui pinjol. Di sisi lain, perusahaan juga gagal memitigasi perilaku peminjam, sehingga meningkatkan potensi galbay. Hal ini tidak hanya berdampak pada nasabah, tetapi juga pada stabilitas ekosistem fintech secara keseluruhan.
Namun, dua nama yang menjadi sorotan utama adalah Koin P2P dan iGrow. Kedua aplikasi ini memiliki TKB90 masing-masing hanya 57% dan 53%, yang menempatkan mereka dalam risiko bangkrut. Kondisi ini bukan hanya merugikan investor, tetapi juga berpotensi mengancam seluruh industri fintech.
Pentingnya Memahami TKB90 bagi Masyarakat
Bagi masyarakat, memahami TKB90 sangat penting agar tidak salah memilih platform. Pinjol dengan TKB90 rendah biasanya menunjukkan kualitas pengelolaan risiko yang buruk dan kemungkinan mengalami masalah keuangan lebih tinggi. Namun, penting untuk ditegaskan bahwa mengetahui risiko tidak berarti dianjurkan untuk sengaja gagal bayar.
OJK menegaskan bahwa tanggung jawab pembayaran tetap ada pada peminjam. Informasi ini diperlukan agar masyarakat lebih cerdas dalam memilih pinjol dan memahami konsekuensi hukum yang berlaku.
Tahun 2025: Dinamika yang Menanti Industri Fintech
Dengan data terbaru dari OJK, tahun 2025 diprediksi akan menjadi tahun penuh dinamika bagi industri fintech lending. Perubahan regulasi, peningkatan pengawasan, dan peningkatan kesadaran masyarakat akan menjadi faktor-faktor penting yang akan memengaruhi perkembangan industri ini.
Yang jelas, edukasi keuangan digital harus terus diperkuat agar masyarakat tidak terjebak dalam risiko yang sama berulang kali. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang TKB90 dan risiko pinjaman online, masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan aman dalam menggunakan layanan finansial digital.
