Teknologi

Mengungkap Trauma, Polisi Panggil Ibu Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Pemeriksaan Terhadap Ibu Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Polda Metro Jaya sedang melakukan upaya pemeriksaan terhadap ibu dari anak berkonflik dengan hukum (ABH) yang diduga menjadi pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto menjelaskan bahwa pemeriksaan ini masih dalam proses dan memerlukan waktu karena keberadaan sang ibu saat ini berada di luar negeri.

“Direncanakan, tapi kan kerja di luar negeri,” ucap Budi saat dikonfirmasi. Proses pemeriksaan ini juga membutuhkan koordinasi dengan agen TKI-nya, mengingat keberadaan ibu ABH tersebut di luar negeri.

Pemeriksaan terhadap ibu ABH dinilai penting untuk menggali informasi lebih lanjut tentang kondisi keluarga dan latar belakang pelaku sebelum kejadian. Hal ini akan membantu penyidik dalam memahami faktor-faktor yang mungkin memengaruhi tindakan pelaku.

Kondisi Pelaku Masih Belum Stabil

Sebelumnya, penyidik Polda Metro Jaya menunda pemeriksaan terhadap ABH berinisial F yang diduga sebagai pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Kondisi kesehatan dan psikologis pelaku dinyatakan belum stabil oleh dokter. Kombes Budi Hermanto menyampaikan bahwa pelaku baru dua hari lalu lepas dari pemasangan selang makan.

“Jadi si ABH ini, baru kemarin lepas selang makan dua hari lalu. Artinya dia baru beradaptasi (menurut) keterangan dokter, jadi dia masih beradaptasi, jadi masih ada rasa mual pusing,” ujar Budi.

Menurut penjelasan Budi, penyidik akan berkoordinasi dengan dokter psikisnya untuk menentukan apakah pelaku layak diperiksa. Saat ini, pelaku masih dalam kondisi bengong dan belum sepenuhnya pulih.

Meskipun pemeriksaan terhadap ABH ditunda, penyidik tetap melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi lain seperti korban, keluarga, Labfor, dan dokter. Setelah kondisi pelaku stabil, penyidik akan berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas), Dinas Sosial, dan KPAI sebelum meminta keterangan.

Korban Masih Trauma

Budi membenarkan bahwa para korban ledakan juga telah dimintai keterangan. Namun, penyidik belum bisa menggali lebih dalam karena kondisi psikologis mereka masih terguncang.

“Iya (korban) dimintai keterangan juga. (Trauma?) pasti. Tapi meyakini bahwa benar ledakan itu benar mereka korban juga. Ini masih belum bisa secara dalam kami dalami, ini masih pelan belum bisa secara dalam, ini kan masih pelan-pelan, karena mereka juga anak-anak, status anak di bawah umur,” katanya.

Pemulihan psikologis korban dan pelaku melibatkan sejumlah pihak, termasuk APSIFOR dan HIMPSI. Semua pihak harus terlibat dalam pendampingan agar proses pemulihan berjalan efektif.

Komunitas Ekstrem dan Pengaruh Media Sosial

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono mengungkapkan bahwa pelaku berinisial F diduga terlibat dalam sebuah grup ekstremisme bernama True Crime Community (TCC). Menurut Eddy, pelaku meniru perilaku kekerasan yang ia lihat di komunitas tersebut.

Dalam kajian psikologis, fenomena ini dikenal sebagai memetic radicalization atau memetic violence, yaitu tindakan kekerasan yang muncul karena keinginan untuk meniru agresi atau perilaku yang ditampilkan oleh sosok atau konten yang diidolakan secara daring.

“Jadi dia bisa meniru ide perilaku apa yang terjadi, sehingga dia meniru supaya bisa dibilang hebat ya, supaya ada kebanggaan,” tutur dia.

Penanganan kasus serupa memerlukan keterlibatan para ahli psikologi untuk memetakan kondisi pelaku sebelum dilakukan proses rehabilitasi. BNPT saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian PPPA, KPAI, serta Kementerian Sosial.

Trauma dan Perubahan Pembelajaran

Sebagian siswa SMAN 72 Jakarta kembali mengikuti pembelajaran tatap muka setelah insiden ledakan pada Jumat (7/11/2025). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, banyak siswa lainnya masih memilih belajar dari rumah karena mengalami trauma pascakejadian ledakan di sekolah itu.

“Ada beberapa yang trauma, luka dan sebagainya yang belajar daring,” kata Pramono Anung di Halaman Masjid Al Ikhlas, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (18/11/2025).

Proses belajar-mengajar sebenarnya telah dibuka kembali sejak Senin (17/11/2025). Namun, Pramono memberi kelonggaran ke siswa dan orang tua untuk memilih metode pembelajaran sesuai kondisi masing-masing.

Batasi Akses Konten Kekerasan di Internet

Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan aturan baru untuk membatasi akses anak-anak terhadap konten kekerasan di internet. Kebijakan ini dirumuskan setelah muncul dugaan bahwa ledakan di SMAN 72 Jakarta terinspirasi dari tontonan di dunia maya.

“Sekarang sedang dirumuskan Dinas Pendidikan agar tidak semua anak dengan gampang melihat YouTube yang kemudian menginspirasi mereka melakukan seperti yang terjadi di SMA 72,” ujar Pramono.

Beberapa Siswa Minta Pindah Sekolah

Ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 menimbulkan rasa cemas di kalangan siswa maupun orang tua. Peristiwa tersebut tidak hanya merusak bagian fisik sekolah, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis bagi para peserta didik.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan, sejumlah siswa bahkan minta pindah sekolah karena merasa tidak aman kembali belajar di sekolah tersebut.

“Saya kaget, bu kepala sekolah menyampaikan ada beberapa siswa yang trauma (setelah ada ledakan di SMAN 72 Jakarta),” kata Pramono Anung, Senin (17/11/2025).

Pramono mengatakan, fenomena ini tidak bisa dianggap sepele dan perlu dicarikan solusi. Ia menyampaikan kepada ibu kepala sekolah, jika memang Senin ini (sekolah) sudah siap, silakan dibuka, tapi kalau belum siap, jangan dipaksakan.


Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya