Pancing Tradisional Masih Jadi Primadona, Yuk Intip Kampung Pengrajin Pancing Tradisional di Kalsel

Pancing Tradisional Masih Jadi Primadona, Yuk Intip Kampung Pengrajin Pancing Tradisional di Kalsel

Juni 23, 2022 Off By publica id

Selain menjadi salah satu penyanggah pangan di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Desa Anjir Serapat Baru Kecamatan Anjir Muara, merupakan penghasil alat pancing tradisional terbuat dari jenis bambu kalai yakni alat pancing ikan gabus, papuyu dan ikan jenis air tawar lainnya.

Salah satu desa penghasil alat pancing tradisional di Kalimantan Selatan adalah Desa Anjir Serapat Baru di Kabupaten Barito Kuala.Di desa ini hampir seluruh penduduknya selain bertani adalah pembuat pancing tradisional.

Sehari desa ini bisa menghasilkan ratusan alat pancing tradisional. Alat pancing ini kemudian dibeli oleh pengumpul untuk di distribusikan ke kabupaten-kabupaten di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Harga satu alat pancing tradisional dengan diameter pangkal 3 cm dengan panjang 5-6 meter dijual dengan harga 20.000-25.000 Rupiah, diameter pangkal 2 cm dengan panjang 4-5 meter dihargai 15.000 Rupiah dan diameter pangkal 1 cm panjang 2-3 meter dihargai sebesar 10.000 Rupiah.

Bagi para penebang bambu bisa mendapatkan 100ribu per hari. Sedangkan upah mengadang juga bisa mendapatkan kisaran 150ribu per hari, bahkan ada yang mencapai 200ribu per hari, tergantung hasil yang didapatkan.

Meskipun alat pancing modern, yang terbuat dari bahan serat fiber atau carbonite, alat pancing tradisional yang terbuat dari bambu, masih dapat bertahan dan masih banyak diminati sehingga menjadi salah satu sumber perekonomian masyarakat Desa Anjir Serapat Baru.

Proses pembuatan pancing ini cukup unik, bambu yang baru ditebang yang rata-rata tidak memiliki bentuk yang lurus antar bagian ruasnya di jemur lebih dahulu kira-kira 1 hari sebelum diluruskan .

Proses pelurusannya juga unik dan  menarik, yaitu dengan cara memanaskan dengan api dari kayu pohon kasturi, bagian ruas yang bengkok tersebut dipanaskan kemudian sambil diratakan sedikit demi sedikit ke arah yang diinginkan, setelah proses selesai pancing bambu menjadi lebih lurus dan siap dipasarkan.

Tanaman bambu jenis kalai yang menjadi bahan baku alat pancing tradisional, sebagai besar ditanam warga pengharajin di lahan pekarangan dan di lahan sawah mereka.

Salah seorang pengrajin alat pancing tradisional Sarman (30 thn), menurutnya membuat alat pancing tradisional bisanya dilakukan sesudah musim tanam padi dan sebelum musim panen.

“Pembuatan alat pancing ini sudah menjadi usaha turun temurun, di samping bahan baku cukup mudah didapat juga pemasarannya tidak sulit, sehingga pembuatan alat pancing ini masih tetap kami lakukan,” ungkap Sarman.

Menurut Kades Anjir Serapat Baru Rudi, Sekarang di Desa Anjir Serapat Baru ada kira-kira 75 persen warga yang melakukan usaha pembuatan alat pancing bambu atau biasa disebut warga lokal dengan Unjun.

Dari menebang bambu, mengadang sampai berdagang unjun. Jumlah serubung/bengkel tempat proses mengadang mencapai 30 bengkel.

“Alat Pancing Tradisional buatan Kampung penghasil alat pancing tradisional terkenal karena kualitasnya yang tahan lama, kuat dan “sensitif terhadap ikan” sehingga digemari peng-hobby mancing berbagai daerah,” jelas Rudi.(IBR/AFR)