Perseteruan Antara Nuril Sahara dan Yai Imin yang Berujung di Ranah Hukum
Perseteruan antara Nuril Sahara dan Yai Imin kini semakin memanas. Awal mula konflik ini terjadi karena mobil rental milik Sahara diparkir di depan rumah Yai Imin. Hal ini membuat istri Yai Imin merasa terganggu dan meminta untuk memindahkan mobil tersebut. Namun, Sahara justru merasa marah dan tidak setuju.
Permasalahan ini semakin memburuk ketika Sahara memposting kejadian tersebut di media sosial. Dalam postingannya, ia mengaku dilecehkan oleh Yai Imin sebanyak empat kali. Menurutnya, pelecehan yang dialaminya adalah bentuk perlakuan yang tidak sopan dan tidak sesuai dengan norma kesopanan.
Sahara juga menyampaikan pengalamannya kepada suaminya, Mohammad Shofwan. Shofwan hanya bisa meminta sang istri untuk bersabar, terutama jika tidak ada sentuhan langsung dari Yai Imin. Ia menahan diri karena menganggap Yai Imin sebagai seorang kyai.
“Beberapa kali istri saya berbicara tentang hal ini, tapi saya hanya memberitahu dia untuk sabar. Karena dia adalah kyai, mungkin saja sedang khilaf,” ujar Shofwan. Ia juga memberi peringatan kepada istrinya agar tidak menganggap serius perkataan Yai Imin, kecuali jika ada tindakan fisik.
Shofwan menganggap bahwa Yai Imin adalah seorang kyai, sehingga ia tetap menjaga sikap hormat meskipun ada dugaan pelecehan. “Jika hanya perkataan, itu tidak perlu ditanggapi serius. Tapi jika ada sentuhan, pasti akan berbeda,” tambahnya.
Sahara mengatakan bahwa pelecehan yang dialaminya terjadi karena Yai Imin merasa bahwa dirinya dan teman-temannya di garasi terlalu santai dalam menyikapi guyonan yang dilakukan Yai Imin. “Saya merasa itu adalah pelecehan, tapi bagi beliau itu bukan. Saya dilecehkan sebanyak empat kali,” kata Sahara.
Selain masalah pelecehan, perseteruan juga terjadi karena masalah parkir. Sahara mengklaim bahwa parkir mobilnya tidak dilakukan di jalan umum, melainkan di tanah pribadi. Masalah ini muncul setelah mereka bertengkar.
Sahara juga mengatakan bahwa dirinya baru mengenal Yai Imin selama tiga bulan sejak pindah ke lokasi tersebut. Ia menegaskan bahwa ia tidak sembarangan memberikan akses fasilitas perusahaan termasuk kunci kepada orang lain.
Suami Bertindak Kasar
Zaky Chong, kuasa hukum Sahara, menjelaskan alasan Shofwan bertindak kasar terhadap Yai Imin. Selain istri yang dilecehkan, Zaky Chong menyebutkan bahwa anak Shofwan juga diperlakukan kurang baik oleh Yai Imin. “Shofwan memilih untuk menahan diri karena menganggap Yai Imin sebagai kyai, namun ternyata ada faktor lain,” jelasnya.
Zaky Chong juga menyatakan bahwa pihaknya akan melaporkan Yai Imin ke pihak berwajib terkait kasus pelecehan seksual. Meski demikian, ia memilih untuk tidak membuka objek aduan utama yang berkaitan dengan pelecehan seksual, guna menjaga kehormatan seorang kyai dan ulama.
Yai Mim Merasa Sakit Hati
Yai Mim merasa sakit hati disebut problematik oleh pihak Sahara. Ia menganggap ucapan tersebut merendahkan martabat dan mencoreng nama baiknya. Ia pun menyerahkan kasus ini kepada kuasa hukumnya, Agustian Anggi Siagian, untuk menempuh langkah hukum.
“Kalimat ‘problematik’ tidak tepat digunakan oleh seorang kuasa hukum karena dinilai telah menyerang personal,” ujar Yai Mim. Ia juga menyampaikan somasi terhadap Zaky Chong, kuasa hukum Sahara.
Yai Mim menegaskan bahwa dirinya bukan sosok seperti yang digambarkan. Ia memiliki latar belakang akademik dalam bidang sosial dan psikologi. “Saya belajar ilmu psikologi dan tasawuf. Saya juga membaca filsafat,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa persoalan ini akan mendapat perhatian lebih luas dari organisasi keagamaan. PBNU akan segera menindaklanjuti masalah ini. Yai Mim mengaku enggan kembali ke Malang kecuali memenuhi undangan BAP oleh Polres tanggal 7 Oktober.
Meski harus pindah-pindah hotel, Yai Mim merasa lebih nyaman dengan kondisinya saat ini. Ia juga mengaku sangat antusias menghadapi kasus perseteruannya dengan Sahara yang berujung di ranah hukum. “Saya cukup sabar merasa diinjak-injak hingga berdampak pada anak-anak saya,” tutupnya.
