Peran Guru dalam Masa Digital
Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi digital dan penguatan infrastruktur pendidikan bagi para pendidik. Dalam sambutannya pada acara Sinergi dan Apresiasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bali Tahun 2025 di Aula Universitas Terbuka Denpasar, ia menyampaikan bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat dan instan melalui dunia digital.
“Para pendidik perlu meningkatkan sarana prasarana serta wawasan dalam mendidik anak-anak di sekolah,” ujarnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa guru tetap bisa menghadapi tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi.
Peningkatan Anggaran CSR untuk Guru
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali telah meningkatkan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Bank BPD Bali. Sebelumnya anggaran sebesar Rp 100 juta kini naik menjadi Rp 200 juta. Penambahan anggaran ini merupakan bentuk perhatian Pemprov Bali terhadap para pendidik sekaligus untuk menunjang sarana dan prasarana pendidikan.
Giri menjelaskan bahwa langkah ini juga dimaksudkan untuk mendukung tunjangan profesi guru agar mereka tidak tertinggal dari anak didiknya yang semakin melek teknologi. CSR tersebut juga menjadi dukungan terhadap pelaksanaan Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar), agar dapat berjalan dengan baik.
Era Kecerdasan Buatan dan Peran Guru
Ia menyebutkan bahwa kita kini berada di era kecerdasan buatan (AI) atau era 4.0, dan menuju era 5.0 yang lebih mengandalkan tenaga robot. Namun, satu-satunya yang tidak akan tergantikan adalah tenaga guru.
“Karena itu, sangat penting bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan, karakter, dan budaya yang adi luhung,” ujarnya. Menurutnya, kode etik yang dimiliki seorang pengajar harus tetap dijunjung tinggi agar menjadi pondasi yang kuat dalam melahirkan generasi yang mumpuni.
Apresiasi kepada Guru
Lebih lanjut, Giri menegaskan pentingnya peran guru dalam melahirkan generasi unggul. Keberhasilan guru yang bermutu pasti akan menjadi kebaikan bersama. “Orang hebat hanya bisa menghasilkan beberapa karya bermutu, sedangkan guru yang bermutu akan menghasilkan ribuan orang hebat,” katanya.
Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa guru wajib mampu berinteraksi dan beradaptasi secara digital karena di era sekarang setiap informasi dapat diakses dengan sangat cepat. Pada kesempatan itu, Giri turut menyampaikan rasa bangga atas kesiapan sejumlah atlet yang akan mewakili Provinsi Bali dalam ajang Porsenijar yang akan dilaksanakan pada 26–27 November mendatang.
Prestasi Atlet dan Peran Pelatih
Ia menyebutkan bahwa berbagai prestasi para atlet tentu tidak lepas dari peran pelatih yang memiliki mutu, kualitas, dan karakter yang baik. Pada 2025, sebanyak 31 atlet yang merupakan guru akan bertanding di cabang olahraga bulu tangkis dan catur.
“Berkaitan dengan Porsenijar, atas nama Pemprov Bali, kami menyampaikan apresiasi setulus-tulusnya,” ujarnya.
Tantangan dalam Dunia Pendidikan
Sementara itu, Ketua PGRI Bali, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, menyampaikan bahwa para pendidik saat ini menghadapi dunia pendidikan yang memiliki dinamika dan tantangan tersendiri. “Pendidikan saat ini penuh dengan warna dan isu yang kurang mengenakkan bagi para pendidik,” katanya.
Gusti menyebutkan bahwa risiko dalam menjalankan pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas, menuntut guru agar senantiasa berpegang pada kode etik profesi. “Dengan demikian, marwah guru sebagai penyelenggara satuan pendidikan akan sejalan dengan kode etik guru dan organisasi PGRI dalam memandu perkembangan menuju Indonesia Emas,” ujarnya.
