Teknologi

Pengembangan Keterampilan: Perlindungan Sosial Baru untuk Pengemudi Online di Era Digital



Setiap hari, ribuan pengemudi ojek online mengarungi jalanan demi memperoleh penghasilan harian. Namun, di balik kegiatannya tersebut, mereka menyadari bahwa profesi ini tidak bisa dijalani seumur hidup. Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik mulai menurun, dan pendapatan yang tidak pasti semakin terasa. Dalam situasi seperti ini, upskilling dipandang sebagai langkah penting untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang karier baru, bukan hanya sebagai pelengkap tetapi juga sebagai bentuk perlindungan sosial bagi mereka yang bergantung pada ekosistem digital platform.

Fenomena Gig Ekonomi: Fleksibel, tapi Rapuh

Perkembangan gig ekonomi menciptakan fenomena baru dalam dunia kerja. Ketika sektor formal terpukul oleh ketidakpastian ekonomi dan gelombang PHK, banyak orang beralih menjadi pengemudi ojek online sebagai solusi untuk memperoleh penghasilan. Sifat pekerjaan yang fleksibel dan mudah diakses membuat profesi ini menjadi “bantalan sosial” di tengah keterbatasan pekerjaan formal.

Namun, sifatnya yang berbasis orderan membuat posisi pengemudi ojek online sangat rentan. Tanpa adanya jaminan kerja, penghasilan akan berhenti ketika mereka tidak mengambil orderan. Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik pengemudi menurun, sehingga ketidakpastian ekonomi semakin terasa. Di titik ini, isu keberlanjutan karier bagi pengemudi menjadi penting untuk dibahas; bukan hanya dari sisi perlindungan sosial formal, tetapi juga bagaimana peluang kerja untuk bisa transisi ke sektor lain yang lebih stabil secara jangka panjang.

Menyadari Batas: Momentum Transisi bagi Pengemudi

Temuan riset dan diskusi dengan pengemudi di tiga kota besar (Jakarta, Bali, dan Yogyakarta) menunjukkan kesadaran kolektif dari pengemudi bahwa mereka tidak bisa menjalani pekerjaan ini seumur hidup. Mayoritas responden yang sudah bekerja selama lebih dari lima tahun dan memiliki pengalaman lapangan mulai menyadari batasan fisik serta risiko jangka panjang yang mereka hadapi. Mereka melihat upskilling sebagai langkah penting untuk mempersiapkan diri untuk berpindah ke sektor lain melalui pelatihan peningkatan kualitas kerja dalam platform maupun transisi saat keluar dari ekosistem ride-hailing.

Dua Arah Upskilling: Dari Mitra Unggul menuju Karier Baru

Diskusi dengan pengemudi online di tiga kota menunjukkan bahwa mereka tidak melihat pekerjaan ini sebagai tujuan akhir. Persaingan yang semakin ketat dan pendapatan yang tidak pasti membuat mereka menyadari kebutuhan akan upskilling sebagai jalan untuk bertahan dan melangkah maju. Berikut dua arah besar upskilling yang dibutuhkan oleh pengemudi.



Pertama, upskilling di dalam ekosistem platform. Sejumlah pengemudi menyatakan bahwa mereka membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi agar bisa “naik kelas” dalam platform, misalnya dari pengemudi motor ke mobil maupun layanan premium. Antusiasme pengemudi ditunjukkan pada program pelatihan untuk peningkatan daya saing berbasis kualitas, seperti pelatihan bahasa asing, pelayanan pelanggan, dan grooming. Pelatihan ini mendapat apresiasi karena dianggap berdampak langsung pada peningkatan pendapatan pengemudi.

Kedua, upskilling untuk pivot karir. Kelompok ini melihat profesi pengemudi sebagai “pekerjaan sementara” dan bukan tujuan akhir. Mereka berharap mendapat pelatihan yang membuka jalan untuk kembali ke sektor formal atau membuka usaha sendiri, seperti pelatihan kewirausahaan, digital marketing, dan keahlian vokasional. Harapan mereka adalah pelatihan ini tidak hanya disediakan oleh platform, tetapi juga oleh pemerintah atau lembaga pendidikan dalam bentuk micro-credential, sehingga bisa diakui secara resmi dan membantu mereka dalam mencari pekerjaan.



“Kami ingin pelatihan yang benar-benar bisa dipakai setelah tidak lagi menjadi driver, kalau bisa ada sertifikat resmi, bukan hanya sekedar pelatihan formal,” ungkap salah satu pengemudi di Yogyakarta.

Upskilling Perlu Kolaborasi, Bukan Tugas Sepihak Platform

Bagi para pengemudi, pelatihan bukan hanya bonus tambahan, melainkan fondasi penting bagi masa depan mereka. Mereka memandang upskilling sebagai tanggung jawab bersama. Platform diharapkan fokus memberikan pelatihan teknis berkaitan dengan ekosistem, seperti pelatihan peningkatan kualitas layanan, adaptasi teknologi, maupun pelatihan bahasa. Sementara itu, pemerintah berperan menyediakan pelatihan untuk transisi karier ke sektor lainnya.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah pentingnya perubahan regulasi untuk mendorong kompetisi berbasis kualitas, bukan perang tarif. Dalam kondisi persaingan harga antar-platform yang begitu ketat, peningkatan keterampilan dirasa tidak berdampak pada peningkatan pendapatan. Hal ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam menetapkan regulasi yang mengatur tarif yang adil dan memberikan pelatihan jangka panjang yang dapat berdampak pada mobilitas pengemudi.

Upskilling: Bentuk Instrumen Perlindungan Sosial Baru

Selama ini, bentuk perlindungan sosial bagi pengemudi terbatas pada jaminan kesehatan dan kecelakaan yang hanya berlaku saat “on job”. Upskilling menawarkan dimensi baru sebagai jaminan sosial bagi pengemudi berupa alat untuk bergerak naik. Pelatihan bukan hanya tentang peningkatan kompetensi, tetapi juga mekanisme untuk memperluas peluang ekonomi dan mobilitas sosial.

Dalam konteks kebijakan publik, upskilling dapat berfungsi sebagai salah satu integrative instrument kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan, dan ekonomi digital. Program pelatihan berbasis micro-credentials yang dirancang bersama oleh pemerintah, digital platform, universitas, dan sektor industri dapat membuka jalan bagi pengemudi untuk mengakses pekerjaan formal, menjadi wirausaha kecil, atau berperan dalam sektor ekonomi baru.

Jalan ke Depan: Dari Bertahan Menuju Berkembang

Peran pengemudi dalam ekonomi digital Indonesia sangat signifikan. Mereka bukan hanya pekerja, melainkan juga shock absorber ketika ekonomi goyah. Namun agar peran ini tidak menjebak mereka dalam siklus kerentanan, diperlukan strategi transisi yang terencana. Upskilling memberikan peluang nyata untuk perubahan tersebut. Dengan kolaborasi lintas sektor, pengemudi dapat bertransformasi dari sekadar bertahan hidup di jalan menjadi aktor ekonomi yang berdaya dan adaptif.

Pekerjaan sebagai pengemudi ojek online mungkin tidak selamanya, tetapi dengan dukungan pelatihan yang tepat, pengalaman mereka bisa menjadi pijakan kuat untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya