Prabowo Subianto: Demokrasi Indonesia Harus Berlandaskan Persaudaraan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa demokrasi di negara ini harus dijalankan dengan penuh persaudaraan, tanpa adanya dendam atau permusuhan politik. Ia menekankan bahwa persaingan politik dalam pemilihan umum, baik legislatif maupun kepala daerah, adalah hal yang wajar dan alami. Namun, setelah proses kontestasi selesai, semua pihak harus mampu bersatu demi kepentingan rakyat.
“Demokrasi artinya kita harus bersaing, tapi bersaingnya itu dalam pemilihan sekali 5 tahun. Bersaing jangan bermusuhan, jangan dendam. Dalam sepak bola hanya satu yang juara umum, yang kalah harus dukung yang menang karena kita semua bekerja untuk rakyat,” ujar Prabowo pada Senin (29/9/2025).
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga harmoni antar elit politik. Menurutnya, rakyat tidak menginginkan pemimpin yang saling bermusuhan. Paradigma lama yang penuh gontok-gontokan dinilai sudah tidak relevan lagi. Bangsa Indonesia telah sepakat berlandaskan ideologi Pancasila, sehingga perlu dihindari konflik yang tidak produktif.
“Rakyat kita tidak suka pemimpin penuh dendam. Kalau masih pakai paradigma lama, paradigma perang ideologi, itu salah. Kita sudah sepakat ideologi kita Pancasila,” tegasnya.
Prabowo juga memberikan contoh tentang pentingnya kerja sama lintas partai. Ia menyebut dirinya mampu bekerja sama dengan tokoh dari partai lain demi kepentingan rakyat. Contohnya, ia menyebut Gubernur DKI Jakarta yang berasal dari partai lain tidak ada masalah. Begitu pula dengan Gubernur Jawa Barat yang berasal dari Partai Gerindra. Meski begitu, ia menegaskan bahwa jika ada tindakan tidak terpuji, akan segera ditindak lanjuti.
“Gubernur DKI dari partai lain tidak ada masalah. Sama dengan Gubernur Jawa Barat yang dari Gerindra, kalau brengsek saya usut, tapi saya yakin tidak,” tuturnya.
Peran Akademisi dalam Mengelola Kekayaan Negara
Selain itu, Presiden Prabowo meminta para profesor, akademisi, dan pakar Indonesia untuk menggunakan ilmu serta kepintaran mereka demi menyelamatkan kekayaan bangsa agar dapat dinikmati sepenuhnya oleh rakyat. Ia menyoroti kondisi selama 25 tahun terakhir di mana aliran kekayaan Indonesia lebih banyak keluar negeri daripada tinggal di dalam negeri.
Menurut Prabowo, hal tersebut harus segera dibenahi melalui perbaikan sistem yang lebih efektif dan transparan. Ia meminta para ahli untuk melakukan analisis data dan mempelajari kondisi ekonomi secara mendalam.
“Saya minta profesor-profesor yang pintar-pintar gunakan kepintaranmu untuk kepentingan bangsa. Analisa data, pelajari, yakini. Masa 25 tahun kita tidak bisa analisa bahwa lebih banyak kekayaan kita keluar dari Indonesia? Ini segera harus kita ubah,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan berbasis data, Prabowo berharap Indonesia mampu mengelola sumber daya alam dan kekayaan negara dengan lebih baik. Hal ini menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
