Latar Belakang dan Perjalanan Kehidupan Rama Duwaji
Rama Duwaji kini menjadi sorotan publik di Amerika Serikat dan dunia internasional. Meskipun baru berusia 28 tahun, ia tidak hanya dikenal sebagai istri Zohran Mamdani, Wali Kota New York terpilih, tetapi juga sebagai seniman muda dengan suara kuat tentang identitas, kemanusiaan, dan Timur Tengah.
Di balik sosok elegannya yang berdiri di sisi Mamdani saat pidato kemenangannya, tersimpan kisah hidup yang menarik tentang akar budaya, perjalanan seni, dan peran tak terduga dalam dunia politik. Meski kerap menulis “from Damascus, Syria” di bio Instagram-nya, Rama Duwaji sejatinya lahir di Texas, Amerika Serikat, seperti dikonfirmasi oleh juru bicara kampanye Mamdani kepada The New York Times.
Ia berasal dari keluarga keturunan Suriah, dan sejak kecil sudah akrab dengan dua dunia, Timur dan Barat, yang kemudian menjadi fondasi bagi karya-karyanya.
Pendidikan dan Karier
Duwaji menempuh pendidikan sarjana di Virginia Commonwealth University, mengambil jurusan Communication Design, sebelum melanjutkan magister ilustrasi di School of Visual Arts, New York. Kini, menurut bio-nya di L’AiR Arts dan situs pribadinya, Duwaji berkarir sebagai ilustrator dan animator yang berbasis di Brooklyn, New York.
Selama masa pandemi, Duwaji menghabiskan waktu bersama keluarganya di Dubai, Uni Emirat Arab. Meski nyaman di Timur Tengah, ia mengaku memiliki hasrat kuat untuk kembali ke New York, kota yang menjadi pusat seni dan aktivisme. Ia akhirnya pindah ke Brooklyn sekitar tahun 2021, dan di situlah babak baru hidupnya dimulai.
“Saya tidak akan berbohong, keadaan di New York terasa suram saat itu. Dengan banyaknya orang yang dibungkam oleh rasa takut, yang bisa saya lakukan hanyalah menggunakan suara saya,” ujarnya saat itu.
Kisah Cinta dan Hubungan dengan Zohran Mamdani
Kisah cinta Rama Duwaji dan Zohran Mamdani terdengar seperti skenario film modern. Dalam wawancara di podcast The Bulwark pada 17 Juni, Mamdani mengungkap bahwa ia bertemu Rama lewat aplikasi kencan Hinge. “Masih ada harapan di dating apps,” ujarnya berseloroh. Dari situ, hubungan mereka berkembang pesat.
Pada April 2022, Mamdani mengunggah foto hasil jepretan Duwaji di Instagram, salah satu tanda awal kedekatan mereka di ruang publik. Pada Oktober 2024, Mamdani mengunggah foto Rama dengan emoji cincin dan tagar #hardlaunch, disertai caption “Light of my life” dan emoji cincin. Unggahan itu langsung dibanjiri ucapan selamat atas pertunangan mereka.
Tak lama kemudian, seperti diungkap dalam Interview Magazine edisi April 2025, pasangan ini menikah secara sipil di kantor City Clerk, New York, awal tahun 2025. Beberapa bulan berselang, nama Rama mencuri perhatian dunia, saat sang suami menorehkan sejarah politik baru.
Peran sebagai Seniman dan Aktivis Sosial
Kini, Rama Duwaji bukan hanya pendamping politisi. Ia adalah seniman dengan misi sosial yang jelas. Karyanya telah ditampilkan di BBC News, The New York Times, The Washington Post, Vice, hingga museum Tate Modern London.
Dalam situs pribadinya, Duwaji menulis bahwa seni adalah alat untuk “menelusuri makna persaudaraan dan pengalaman komunal”. Ia banyak menciptakan karya bernuansa hitam-putih, menggambarkan kehidupan masyarakat Arab dan pengalaman perempuan di dunia yang penuh gejolak.
Selaras dengan prinsipnya, Duwaji dikenal vokal terhadap isu-isu global. Mulai dari penderitaan warga Palestina, kritik terhadap imperialisme Amerika, hingga isu pengungsi Suriah. Sikapnya sering menuai pujian, tapi juga kritik keras di dunia maya.
“Saya percaya setiap orang memiliki tanggung jawab untuk melawan ketidakadilan, dan seni memiliki kekuatan besar untuk menyebarkan kesadaran,” kata dia.
Peran di Balik Layar Kampanye Politik
Meski jarang tampil selama masa kampanye, CNN melaporkan bahwa Duwaji justru berperan besar di balik layar. Ia membantu merancang identitas visual kampanye Mamdani, dari logo, tipografi, hingga warna kampanye yang khas: kuning, oranye, dan biru.
Namun, ketika media sempat menuding Mamdani “menyembunyikan istrinya”, sang politisi langsung menegaskan alasannya: “Kritiklah pandangan politik saya, tetapi jangan keluarga saya,” tulis Mamdani di media sosial.
Salah satu teman dekatnya, Hasnain Bhatti, menyebut Duwaji sebagai sosok “seperti Putri Diana masa kini”. Pujian itu bukan tanpa alasan. Di tengah popularitas suaminya, Duwaji tampil tenang, rendah hati, dan tetap fokus pada karya serta aktivismenya.
Kini, publik Amerika menyebutnya ikon baru bagi perempuan Muslim muda: cerdas, berani, artistik, dan berprinsip. Sosok yang dulu menulis “from Damascus” di bio-nya, kini berdiri di jantung dunia, New York City, membawa kisah diaspora, seni, dan cinta yang melintasi batas budaya.
