Puma Mengambil Langkah Besar dengan Pemutusan Hubungan Kerja
Puma, sebuah perusahaan olahraga asal Jerman, mengumumkan rencana untuk memecat sekitar 900 karyawan di bidang administrasi hingga akhir 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap penurunan penjualan yang terjadi sejak Januari hingga September 2025. Ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam upaya meningkatkan daya saing dan efisiensi operasional.
Fokus pada Pasar Utama
CEO Puma, Arthur Hoeld, menjelaskan bahwa perusahaan akan meningkatkan fokus pada pasar utama seperti pakaian sepak bola, latihan, lari, serta pakaian olahraga. Ia menyatakan bahwa Puma perlu bertransformasi menjadi saluran campuran untuk mencapai pertumbuhan yang lebih baik dalam menjangkau konsumen. Tahun 2025 akan menjadi tahun perubahan, sedangkan 2026 akan menjadi masa transisi.
Hoeld juga menilai bahwa Puma saat ini kurang komersial, baik itu di dalam sektor grosir maupun saluran yang dimiliki dan dioperasikan (O&O). Dengan rencana ini, Puma berharap bisa menjadi merek olahraga terbesar ketiga di dunia.
Menghentikan Kampanye Marketing Sebelumnya
Sebagai bagian dari strategi baru, Hoeld memutuskan untuk menghentikan kampanye marketing besar-besaran yang dilakukan oleh CEO sebelumnya. Langkah ini bertujuan untuk membangun kembali citra Puma dan meningkatkan pendapatan serta kesehatan profit dalam jangka menengah.
Selain itu, ia juga ingin memperkuat kerja sama dengan perusahaan olahraga lain seperti Hyrox. Namun, langkah ini tidak langsung memberikan dampak positif bagi saham Puma. Saham perusahaan turun sebesar 8,8 persen setelah pengumuman tersebut. Selain itu, saham Puma juga turun separuhnya dalam 12 bulan terakhir, menjadi yang terburuk dibandingkan pesaingnya seperti Nike dan Adidas.
Pengaruh Tarif AS terhadap Saham Perusahaan
Pada April, saham Nike, Adidas, dan Puma mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan tarif resiprokal baru. Tarif ini mencakup produsen pakaian dan sepatu, termasuk Vietnam, Indonesia, dan China.
Menurut laporan News24, Nike memproduksi 50 persen dari sepatu dan 28 persen dari pakaian di Vietnam pada 2024. Sementara itu, Adidas bergantung pada produksi sepatu di Vietnam yang mencapai 39 persen dan 18 persen pakaian. Selain Vietnam, Indonesia dan Kamboja menjadi pusat industri yang dimiliki oleh Adidas. Perusahaan Jerman ini telah memproduksi 32 persen sepatu dan 23 persen pakaian di kedua negara tersebut.
Tren PHK di Berbagai Perusahaan
Pemutusan hubungan kerja (PHK) bukanlah hal baru di kalangan perusahaan besar. Beberapa perusahaan Jerman sudah melakukan PHK dalam beberapa bulan terakhir sebagai bagian dari rencana restrukturisasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah tantangan ekonomi global.
Beberapa perusahaan lain juga mengikuti tren ini. Misalnya, Produsen Ban Michelin melakukan PHK terhadap ratusan karyawan. Sementara itu, Amazon juga dikabarkan akan melakukan PHK terhadap 14 ribu karyawan global dengan fokus pada pengembangan teknologi AI.
Perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa PHK menjadi alat penting dalam menghadapi perubahan pasar dan meningkatkan kinerja keuangan. Meskipun proses ini sering kali menimbulkan ketidaknyamanan bagi karyawan, namun dianggap sebagai langkah strategis untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
