News

Rencana Trump di Gaza, PM Qatar Minta Penjelasan dan Perundingan

Peran Qatar dalam Proses Perdamaian Gaza

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyampaikan pernyataan penting terkait rencana Presiden AS Donald Trump untuk menyelesaikan konflik di Gaza. Pernyataan tersebut disampaikannya pada Selasa (30/9) dan menunjukkan bahwa beberapa aspek dari rencana tersebut memerlukan klarifikasi dan negosiasi lebih lanjut.

Menurut Al Thani, rencana yang diajukan oleh Trump memiliki tujuan utama yaitu mengakhiri perang. Namun, ia menekankan bahwa masih ada beberapa isu yang perlu dibahas secara mendalam agar dapat mencapai kesepahaman yang lebih luas. Ia berharap semua pihak akan memandang rencana ini dengan cara yang konstruktif dan memanfaatkan peluang untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama.

Sejauh ini, Doha belum menerima tanggapan resmi dari Hamas terhadap rencana tersebut. Al Thani menjelaskan bahwa diperlukan konsensus antara faksi-faksi Palestina sebelum langkah-langkah lebih lanjut dapat diambil. Ia juga menyebutkan bahwa para mediator dari Qatar dan Mesir telah bertemu dengan Hamas pada Senin (29/9) untuk menjelaskan tujuan utama mereka, yaitu menghentikan perang.

Fokus utama Qatar saat ini adalah bagaimana mengurangi penderitaan warga Palestina di Gaza. Prioritas negaranya adalah mengakhiri konflik, kelaparan, serta pengungsian di wilayah tersebut. Al Thani menegaskan bahwa rencana yang diumumkan oleh Trump membutuhkan pembahasan rinci dan penyelesaian yang tepat.

Negara-negara Arab dan Islam telah berupaya maksimal untuk memastikan bahwa warga Palestina tetap tinggal di tanah airnya dan mencapai solusi dua negara. Menurut Al Thani, fase saat ini sangat penting dan merupakan bagian dari proses negosiasi yang tidak selalu menghasilkan bahasa yang sempurna. Jalan yang sudah ada harus terus dikembangkan agar efektif dan berhasil.

Pada hari sebelumnya, Trump meluncurkan rencana 20 poin untuk mengakhiri konflik Israel di Gaza dalam konferensi pers di Gedung Putih bersama pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. Rencana ini mencakup beberapa poin penting seperti pembebasan tawanan Israel dengan imbalan puluhan tahanan Palestina, pelucutan senjata Hamas sepenuhnya, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap. Selain itu, rencana ini juga menyarankan pembentukan komite teknokratis dan apolitis untuk memerintah wilayah Gaza.

Jalan menuju penentuan nasib sendiri dan kenegaraan Palestina diuraikan dalam rencana tersebut sebagai sebuah kemungkinan, bukan jaminan. Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah membunuh lebih dari 66.000 warga Palestina, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Serangan terus-menerus telah membuat wilayah Gaza tidak layak huni, menyebabkan kelaparan, serta penyebaran penyakit yang semakin parah.

Penulis: Nida’an Khafiyya