Teknologi

Ribuan Pelayat Berduka, Jenazah Pekerja Migran Indonesia Tiba di Tulungagung

Duka Mendalam di Desa Karanganom

Suasana duka menyelimuti Desa Karanganom, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, ketika jenazah Sumarno (37), seorang pekerja migran Indonesia, tiba di kampung halaman. Peristiwa ini menjadi momen yang sangat berat bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Ribuan pendekar dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) turut mengiringi prosesi pemakaman, menjadikan peristiwa ini bukan hanya momen kehilangan, tetapi juga simbol kebersamaan dan solidaritas. Mereka hadir untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga korban.

Sumarno ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergeletak di tepi jalan di daerah Kuching, Serawak, Malaysia, pada Minggu pagi, 23 November 2025. Informasi yang beredar menyebutkan adanya luka di bagian tubuh korban, sehingga keluarga menduga kematiannya bukan sekadar kecelakaan. Namun, proses autopsi tidak dilakukan karena jenazah segera dipulangkan melalui jalur Pontianak – Surabaya.

Setelah melalui perjalanan panjang dari Malaysia, jenazah Sumarno tiba di Surabaya dan langsung dibawa ke Tulungagung. Kedatangan jenazah disambut oleh keluarga, kerabat, serta ribuan anggota PSHT yang sudah menunggu sejak pagi. Mereka berbaris rapi, mengenakan seragam khas perguruan, dan mengawal jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

Ribuan pendekar PSHT yang hadir bukan hanya dari Tulungagung, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, lantunan doa terus berkumandangkan, menciptakan suasana khidmat dan penuh rasa persaudaraan. Tidak sedikit meneteskan air mata atas kepergiannya.

“Mas Sumarno dikenal sebagai sosok yang ramah dan selalu membantu. Kami semua kehilangan sahabat sekaligus saudara yang baik”, ucap salah satu pentakziah yang enggan disebutkan namanya (Kamis, 27 Nopember 2025).

Meski pihak keluarga mendengar tentang adanya luka di tubuh korban, hingga kini belum ada kepastian resmi mengenai penyebab kematian Sumarno. Dugaan pembunuhan muncul dan menjadi perbincangan di kalangan teman dan para pelayat. Masyarakat berharap pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dapat menindaklanjuti kasus ini apabila memang ditemukan unsur kejahatan.

Prosesi pemakaman berlangsung pada Kamis, 27 November 2025, di pemakaman desa setempat. Ribuan orang yang hadir membuat jalan desa penuh sesak, namun tetap tertib. Tangis keluarga bercampur dengan semangat persaudaraan dari para pendekar, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu pemakaman terbesar yang pernah terjadi di Tulungagung.

Kematian Sumarno meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Tulungagung. Namun, kehadiran ribuan pendekar PSHT dalam prosesi pemakaman menunjukkan bahwa nilai persaudaraan dan solidaritas masih hidup kuat di tengah masyarakat.

Kasus ini juga menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan bagi pekerja migran Indonesia di luar negeri.


Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya