Rupiah Kembali Menguat Dalam Sepekan Terakhir
Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data dari pasar, rupiah mengakhiri pekan ini dengan kenaikan sebesar 0,21% ke posisi Rp 16.562 per dolar AS. Dalam satu minggu terakhir, rupiah telah menguat sebesar 1,05% dibandingkan posisi Rp 16.738 pada pekan lalu.
Dari sisi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga mengalami penguatan tipis sebesar 0,0060% menjadi Rp 16.611 per dolar AS. Selama seminggu terakhir, nilai tukar Jisdor BI telah naik sebesar 0,98% dari Rp 16.775 pada pekan sebelumnya.
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa penguatan rupiah dalam sepekan terakhir didorong oleh beberapa data ekonomi domestik yang positif. Salah satunya adalah neraca perdagangan Agustus yang mencatat surplus sebesar 5,49%. Selain itu, inflasi nasional yang meningkat menjadi 2,65% pada September juga menjadi indikator positif.
Selain data ekonomi, pernyataan dari Menteri Purbaya yang menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah turut memberikan sentimen positif bagi rupiah.
Lukman juga menyoroti adanya sentimen risk-on di pasar ekuitas yang turut mendukung penguatan rupiah dalam pekan ini. Hal ini menunjukkan bahwa investor cenderung lebih percaya diri dan bersedia mengambil risiko dalam investasi.
Pengaruh Data Eksternal terhadap Rupiah
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa indeks dolar AS sedang tertekan akibat data Laporan Perubahan Tenaga Kerja Non-Pertanian ADP (ADP Nonfarm Employment Change) yang melemah. Situasi ini membuat investor lebih fokus pada kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada bulan Oktober.
Selain itu, peningkatan harga emas global serta faktor dimulainya tahun ajaran baru pendidikan juga disebut memperkuat rupiah. Kedua faktor tersebut turut memengaruhi permintaan dan penawaran terhadap valuta asing.
Prediksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan
Lukman memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada pekan depan, tergantung pada risalah pertemuan FOMC bank sentral AS, The Fed. Pasar menduga bahwa pidato yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed, Jerome Powell, akan memiliki nada hawkish, yang berpotensi berdampak negatif terhadap rupiah.
Dari sisi domestik, rilis cadangan devisa yang diprediksi naik ke US$ 159 miliar juga akan turut memengaruhi pergerakan rupiah. Meski demikian, Lukman menyatakan bahwa perkembangan sentimen domestik belum sepenuhnya positif. Ia menilai bahwa penguatan rupiah saat ini hanya didasari oleh pernyataan-pernyataan pemerintah, sehingga tidak akan bertahan lama.
Menurut prediksi Lukman, rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.500 hingga Rp 16.650. Sementara itu, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di kisaran Rp 16.520 hingga Rp 16.560 pada Senin pekan depan.
