News

Sakirman, Saudara Kandung Jenderal Siswondo Parman di Balik Politbiro PKI

Sakirman, Anggota Politbiro PKI yang Tewas Akibat Gerakan 30 September

Sakirman, seorang tokoh penting dalam Partai Komunis Indonesia (PKI), menjadi korban dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Ia adalah kakak kandung Letjen S. Parman, salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang juga menjadi korban kekejaman peristiwa tersebut. Meski banyak orang mengenal S. Parman sebagai tokoh militer, sedikit yang tahu bahwa saudara kandungnya ini merupakan anggota senior PKI.

Sakirman lahir pada tanggal 11 November 1911 di Wonosobo, Jawa Tengah. Ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya, Kromodihardjo, adalah seorang pengusaha sukses di Wonosobo dan memiliki latar belakang keluarga Mangkunegaran. Hal ini memungkinkan Sakirman dan adiknya, S. Parman, untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Ia pernah menempuh pendidikan di AMS B (sekarang SMA Negeri 3 Yogyakarta) dan kemudian melanjutkan studinya ke Technische Hoge School (THS), yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, ia dikenal sebagai seorang intelektual.

Selama masa perjuangan kemerdekaan, Sakirman aktif dalam berbagai organisasi. Pada 1940-an, ia menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah menengah di Bandung. Setelah Jepang datang, ia bekerja di Departemen Ekonomische Zaken (Sangjaku). Setelah Jepang mundur, ia bergabung dengan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI). Ia juga terlibat dalam Peristiwa Tiga Daerah di Brebes, Tegal, dan Pemalang, serta menjadi pimpinan Lasjkar Rakjat Jawa Tengah pada 1945. Laskar ini bertujuan untuk memerangi buta huruf, meningkatkan kewaspadaan militer, dan menangkap mata-mata musuh.

Sakirman juga dekat dengan Amir Sjarifoeddin. Ketika Amir menjadi Menteri Pertahanan, Sakirman memimpin TNI Masyarakat dan Biro Perjuangan. Saat Peristiwa Madiun 1948 terjadi, Amir ditangkap karena terlibat dalam pemberontakan PKI, dan Sakirman pun ikut menjadi tahanan.

Pada akhir 1940-an hingga awal 1950-an, PKI kembali bangkit dengan inisiatif Aidit, Lukman, dan Sudisman. Sakirman bergabung kembali dengan partai ini dan berhasil lolos ke parlemen dalam Pemilu 1955. Di sisi lain, adiknya, S. Parman, terus berkembang dalam karier militer dan menjadi jenderal intel kepercayaan Ahmad Yani pada 1960-an.

Gerakan 30 September 1965 meletus dan S. Parman menjadi salah satu korban. Di sisi lain, Sakirman, yang merupakan anggota penting PKI, masuk daftar orang yang harus ditangkap. Setelah berlari-lari selama beberapa waktu, ia akhirnya ditangkap di Solo pada Oktober 1966. Karena mencoba melarikan diri, Sakirman langsung ditembak mati.

Profil Singkat Siswondo Parman

Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada tahun 1918. Pada tahun 1940, ia lulus dari sekolah tinggi di Kota Belanda dan melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran. Namun, pendidikannya terhenti karena Jepang datang ke Indonesia. Parman lalu bekerja untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Meskipun sempat ditangkap karena dicurigai tidak setia, ia akhirnya dibebaskan. Setelah itu, ia dikirim untuk pelatihan intelijen oleh Jepang dan kembali bekerja untuk Kempeitai.

Ketika Jepang bergerak ke kota-kota di Jawa Tengah, Parman dibawa ke Yogyakarta sebagai penerjemah. Ia diangkat sebagai perwira sipil di Kempeitai. Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Parman bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (MBT) di Yogyakarta dengan pangkat kapten.

Peristiwa Madiun 1948 terjadi, dan Parman ditangkap karena kesalahpahaman. Kakaknya, Sakirman, ikut dalam pemberontakan PKI di Madiun. Parman akhirnya dibebaskan setelah terbukti tidak bersalah. Pada tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jabodetabek dan dipromosikan menjadi mayor.

Pada tahun 1951, Parman dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut di Sekolah Polisi Militer. Pada 11 November 1951, ia diangkat menjadi komandan Polisi Militer Jakarta. Selanjutnya, ia menjabat berbagai posisi di Polisi Militer Nasional dan Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai atase militer Kedutaan Indonesia.

Pada 28 Juni, dengan pangkat Mayor Jenderal, S. Parman diangkat menjadi asisten pertama dengan tanggung jawab untuk intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani.

Penulis: Nida’an Khafiyya