Teknologi

Sate Mak Syukur, Kuliner Legendaris yang Harus Dicoba di Padang Panjang

Sejarah Warung Sate Mak Syukur yang Berusia Puluhan Tahun

Warung sederhana Sate Mak Syukur di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, telah menjadi ikon kuliner masyarakat setempat sejak puluhan tahun lalu. Keberadaannya tidak pernah pudar, bahkan semakin diminati oleh berbagai kalangan. Rasa daging sapi yang lembut dan kuah santan kental yang gurih serta sedikit manis menjadi ciri khas dari sate ini, yang juga menjadi simbol kebanggaan kuliner Minang.

Sate Mak Syukur pertama kali didirikan pada tahun 1941 oleh Almarhum Syukur Sutan Rajo Endah. Ia awalnya menjual sate dari Padang Panjang menuju Batusangkar. Dalam bahasa Minang, kata “Mak” merujuk kepada paman atau laki-laki. Oleh karena itu, warung ini dikenal dengan nama “Sate Mak Syukur”.

Pada tahun 1993, warung Sate Mak Syukur resmi berdiri di Kota Padang Panjang, menunggu pelanggan datang untuk menikmati hidangan sate khas Minang. Kini, warung ini sudah dipegang oleh generasi kedua, dan sedang menuju generasi ketiga. Setiap hari, warung ini membuat sekitar 100 kilogram sate, sehingga sekitar 3.000 hingga 4.000 tusuk sate padang terjual habis setiap harinya.

Pada hari libur, jumlah penjualan meningkat dua kali lipat, mencapai 200 kilogram daging sapi per hari. Harga satu tusuk sate adalah Rp 5.000. Saat datang, pelanggan akan disajikan dengan sepiring sate padang yang berisi 20 tusuk. Namun, pelanggan hanya perlu membayar sesuai dengan jumlah sate yang mereka konsumsi, bukan sekali porsi atau Rp 100.000.

Sate-sate ini disajikan terpisah dari kuahnya. Setiap pelanggan bisa merendam sate dalam piring berisi kuah dan katupek (ketupat). Selain itu, tersedia juga sate per porsi seharga Rp 35.000 yang terdiri dari enam tusuk sate lengkap dengan ketupat.

Ciri Khas Kuah Sate Mak Syukur

Kuah Sate Mak Syukur memiliki warna kuning dengan tekstur cukup kental. Zaini, salah satu karyawan warung, menjelaskan bahwa kuah sate berwarna merah biasanya berasal dari Padang Pariaman. Di Kota Padang sendiri, ada kuah sate yang berwarna merah dan kuning. Sedangkan kuah sate dari Bukittinggi, Payakumbuh, dan Padang Panjang biasanya berwarna kuning.

Warna kuning dari kuah sate padang berasal dari campuran kunyit dalam larutan tepung beras saat membuat pelengkap makan sate ini. Penyajian sate Mak Syukur terkesan sederhana. Sejak dulu hingga kini, seporsi sate disajikan di atas piring kaleng beralas daun pisang. Hal yang sama juga berlaku untuk kuah sate.

Jika Anda melintas di Padang Panjang, jangan ragu untuk mampir ke Sate Mak Syukur. Warung makan ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Makanan yang lezat dan suasana yang hangat akan membuat Anda ingin kembali lagi.

Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya