Sejarah Banjir Bandang di Sumatera Utara dan Sumatera Barat
Banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh masih menjadi bencana daerah tingkat provinsi. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian ini sering kali mengakibatkan kerugian besar baik dalam bentuk korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Berikut adalah sejarah banjir bandang yang pernah melanda wilayah tersebut.
1. Banjir Bandang Solok Selatan (1978–1979)
Pada periode 1978 hingga 1979, Solok Selatan dan sekitar Gunung Marapi terkena dampak banjir bandang besar. Aliran air yang membawa kayu dan lumpur merusak permukiman di lereng dan memaksa warga untuk mengungsi.
2. Banjir Bandang Bahorok, Sumatera Utara (2003)
Di penghujung November 2003, kawasan hulu DAS Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya Bahorok dan Langkat, terkena banjir bandang yang mematikan. Arus deras Sungai Bohorok menyebabkan banyak korban jiwa serta merusak infrastruktur dan permukiman di sekitarnya. Dalam waktu kurang dari setengah jam pada Minggu malam 2 November 2003, hampir 300 nyawa manusia lenyap. Lebih dari 400 bangunan hancur akibat gulungan air lumpur dan hantaman batang pohon.
3. Banjir Bandang Aceh Selatan (2006)
Aceh Selatan pada tahun 2006 dilanda banjir bandang yang merusak ribuan rumah di beberapa kecamatan. Debit air yang sangat tinggi memaksa banyak warga mengungsi demi keselamatan mereka. Meskipun tidak ada korban meninggal atau luka-luka, sekitar 5.000 penduduk harus mengungsi. Pihak berwenang juga mendirikan pos kesehatan untuk menangani masalah kesehatan pasca bencana.
4. Banjir Bandang Padang Sidempuan, Sumatera Utara (2017)
Banjir yang melanda Padang Sidempuan pada 2017 terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Sungai-sungai meluap dan permukiman terendam. Akibatnya, beberapa warga meninggal dunia dan rumah serta fasilitas umum mengalami kerusakan parah. Total rumah rusak mencapai 17 unit, 17 unit hanyut, dan 7 kendaraan rusak.
5. Banjir Bandang Sumatera Utara dan Sumatera Barat (2018)
Pada 2018, sejumlah daerah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat seperti Mandailing Natal, Lingga Bayu, dan Muara Batang Gadis mengalami banjir bandang hebat. Material berat seperti batu besar dan kayu gelondongan terbawa arus, menyebabkan kerusakan serius pada permukiman dan infrastruktur. Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan 10 orang lainnya dinyatakan hilang.
6. Banjir Besar Provinsi Bengkulu (2019)
Sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu dilanda banjir dan longsor pada 27 April 2019 akibat curah hujan ekstrem. Kerusakan hutan di hulu sungai, penyempitan daerah aliran sungai, serta pembangunan yang mengurangi daerah resapan air memperparah bencana. Bencana ini menimbulkan kerugian sekitar Rp144 miliar, puluhan korban jiwa, dan ribuan warga harus mengungsi.
7. Banjir Bandang Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (2020)
Pada 3 September 2020, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, dilanda banjir akibat hujan deras sejak dini hari. Air meluap sekitar pukul 03.00 WIB dan menggenangi Nagari Simpang Sugiran, namun penanganan cepat dari warga dan pihak terkait berhasil mencegah korban jiwa maupun luka.
8. Banjir Bandang Sumatera Utara dan Sumatera Barat (2025)
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh dipenghujung November 2025 menimbulkan kerusakan besar dengan ratusan desa terendam serta infrastruktur vital terputus. Bencana ini menelan lebih dari 600 korban jiwa. BNPB mencatat sejak awal tahun hingga November 2025 terjadi 2.726 kejadian bencana hidrometeorologi, sehingga ketiga gubernur langsung menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari.
