Masalah Infrastruktur di Daerah Terpencil
Presiden Prabowo Subianto mengangkat isu penting terkait kondisi infrastruktur di daerah terpencil, khususnya masalah akses jembatan yang layak bagi masyarakat. Dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), ia membagikan bukti video yang menunjukkan kesulitan nyata yang dialami para pelajar di kawasan pedalaman.
Video tersebut merekam perjuangan anak-anak Sekolah Dasar (SD) dalam menyeberangi sungai. Momen ini digunakan oleh Presiden untuk menggugah kesadaran para pejabat yang hadir tentang realitas di lapangan.
“Ini adalah anak-anak yang tiap hari sekolah harus menyebrang sungai. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk sekolah. Tiap hari, tiap hari pakaian mereka basah,” ujar Prabowo di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Dalam video tersebut, terlihat para siswa harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan arus deras menggunakan rakit sederhana. Akibat tidak adanya jembatan yang bisa mereka gunakan, pakaian seragam para siswa basah kuyup sebelum sampai di ruang kelas. Narasi dalam tayangan itu juga memperdengarkan suara anak-anak yang memohon perbaikan infrastruktur.
Para siswa dalam video mengaku sangat tersiksa, dan kegiatan belajar sering terhambat jika banjir datang melanda sungai tersebut. “Kami keseringan dihambat banjir di saat kami pergi ke sekolah, dan kami mohon kepada Bapak untuk membangun jembatan ini, karena kami, kami tersiksa kalau kami pergi ke sekolah,” ujarnya.
Tanggapan dari Presiden Prabowo
Merespons tayangan itu, Presiden Prabowo mengingatkan para elite dan pimpinan negara bahwa kondisi ini merupakan masalah serius. Menurutnya, data mencatat terdapat ratusan ribu titik penyeberangan serupa yang membutuhkan perhatian.
Presiden menilai angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi kurang bermakna jika rakyat kecil masih menderita. “Angka-angka pertumbuhan sangat bagus, tetapi rakyat kita, tiap hari anak-anak kita, tiap hari masuk sungai basah, duduk di kelas basah, pulang kembali basah,” imbuhnya.
Langkah Konkret yang Diambil
Sebagai langkah konkret, Presiden Prabowo telah membentuk satuan tugas (satgas) darurat dan meminta keterlibatan perguruan tinggi. Dia menginstruksikan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, mengerahkan mahasiswa teknik sipil agar terjun ke desa-desa merancang jembatan.
Selain itu, Presiden Prabowo juga memerintahkan jajaran TNI dan Polri turun tangan secara masif. Seluruh batalyon konstruksi dan zeni diminta bergerak cepat mencari titik-titik krusial tersebut untuk segera dibangun.
Prabowo menekankan supaya birokrasi tidak menghambat dengan studi kelayakan yang bertele-tele, seminar, atau simposium. Dia menegaskan jeritan anak-anak tersebut harus segera dijawab dengan tindakan nyata, bukan wacana.
Peran TNI dan Polri
Presiden meminta TNI dan Polri untuk juga mengerahkan semua Batalyon Zeni, Batalyon Teritorial Pembangunan, Kompi Konstruksi dan kompi-kompi lain untuk terjun ke desa-desa tersebut. “Cari titik-titik, saya minta ini diselesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” kata Prabowo.
