Prosesi Pemakaman Sinuhun Pakubuwono XIII yang Penuh Makna
Tangis haru pecah saat jenazah ayahnya, Sinuhun Pakubuwono XIII, dinaikkan ke kereta di Bangsal Magangan. Putra Dalem KGPH Hangabehi tak kuasa menahan emosinya hingga hampir jatuh. Beruntung, sejumlah petugas TNI sigap menahannya dan membawanya ke ruang khusus untuk menenangkan diri.
Prosesi Brobosan, simbol penghormatan terakhir, dilakukan oleh keluarga dan sentono dalem sebelum jenazah diberangkatkan. Isak tangis telah mewarnai seluruh prosesi adat pemakaman sinuhun dari mulai Brobosan hingga pemberangkatan jenazah. Tak terkecuali istri sinuhun, Garwa Dalem Prameswari GKR Pakubuwono XIII, yang juga ikut menunjukkan rasa duka.
Putra Putri Dalem seperti GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, GRAy Devi Lelyana Dewi, GRay Dewi Ratih Widyasari, KGPH Mangkubumi (KGPH Hangabehi), dan GRAy Putri Purnaningrum juga tidak bisa menahan air mata mereka sejak awal prosesi.
Prosesi Brobosan sebagai Simbol Penghormatan
Prosesi Brobosan menjadi salah satu bagian penting dalam prosesi pemakaman. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada mendiang Sinuhun Pakubuwono XIII sebelum dibawa ke kereta jenazah. Prosesi ini dilakukan di samping Bangsal Maligi, setelah peti dibawa dari Bangsal Parasdya tempat sinuhun disemayamkan.
Menurut Penghageng Parentah GPH Dipokusumo, “Itu penghormatan terakhir. Dan merupakan bahasa yang paling mudah itu adalah mikul dzuhur mendam jero ya.” Prosesi ini memiliki makna mendalam dalam budaya Keraton Solo.
Iring-iringan Kereta yang Penuh Filosofi
Kereta kencana yang akan membawa jenazah Sinuhun Pakubuwono XIII ternyata tidak berangkat sendiri. Ada tiga kereta kuda lainnya yang mengiringi. Totalnya ada empat kereta kuda, masing-masing memiliki makna dan fungsi tersendiri dalam prosesi adat yang sarat filosofi.
Kereta utama, yang membawa peti jenazah, ditarik oleh delapan ekor kuda. Di belakangnya, tiga kereta lain menyusul, membawa berbagai pernak-pernik, ampilan, serta udik-udik yang merupakan simbol persembahan dan kemurahan hati sang raja kepada rakyat.
Udik-udik itu nantinya akan disebar sepanjang perjalanan menuju peristirahatan terakhir Sinuhun sebagai bentuk berkah bagi masyarakat yang menyaksikan.
Rute Pemberangkatan yang Penuh Makna
Prosesi diawali dari Sasana Parasdya, tempat jenazah disemayamkan. Sekitar pukul 07.41 WIB, lantunan surat Al-Fatihah menggema, diikuti prosesi brobosan sebelum peti jenazah diusung menuju Bangsal Magangan untuk dipindahkan ke kereta.
Sekitar pukul 07.41 WIB, lantunan surat Al-Fatihah menggema, diikuti prosesi brobosan sebelum peti jenazah diusung menuju Bangsal Magangan untuk dipindahkan ke kereta.
Sejumlah senopati lampah tampak mengenakan kain mori putih sebagai tanda duka.
Menurut KPH Eddy Wirabhumi, salah satu kerabat Keraton, seluruh tata prosesi dan arah perjalanan jenazah memiliki makna filosofis mendalam. Rute pemberangkatan yang dimulai dari Magangan menuju Alun-Alun Selatan melambangkan peralihan dari dunia fana menuju alam keabadian.
“Alun-alun ini konsepnya awang-uwung. Masuk ke alam sana. Makanya kalau meninggal ke sana. Meletakkan kereta di alun-alun yang kanan kereta jenazah yang kiri kereta wisata. Meninggalkan duniawi menuju sang khalik,” terangnya.
Setiap bagian dari Keraton, menurut Eddy, memang mencerminkan siklus kehidupan manusia — dari kelahiran hingga kematian.
“Kalau dulu kita mengajarkan kepada masyarakat depan itu tempat untuk belajar kebudayaan keraton. Kalau kita kembali ke falsafah yang disampaikan PB X keraton jangan hanya dilihat wujud fisiknya. Tapi juga makna sinandinya. Mengajarkan kehidupan manusia sejak dilahirkan sampai meninggal,” tambahnya.
Rombongan kereta jenazah Sinuhun nantinya melintasi rute penuh makna: dari Magangan ke Alun-Alun Kidul, lalu ke barat melewati Perempatan Gading, terus ke utara menuju Gemblegan, dan berakhir di Loji Gandrung sebelum diberangkatkan ke pemakaman Imogiri.
