Pemulangan Warga Negara Iran oleh Pemerintah AS
Sejumlah pejabat di Iran mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang merencanakan pemulangan ratusan warga negara Iran dalam beberapa minggu mendatang. Dalam gelombang pertama, sekitar 120 orang diperkirakan akan tiba di Iran dalam beberapa hari ke depan. Rencana ini terjadi menjelang masa jabatan Presiden Donald Trump yang memperketat kebijakan imigrasi.
Hossein Noushabadi, direktur jenderal urusan parlemen dan konsuler di Kementerian Luar Negeri Iran, menyampaikan informasi tersebut kepada kantor berita Tasnim. Menurutnya, otoritas imigrasi AS berencana mendeportasi sekitar 400 warga negara Iran. Pesawat pertama yang membawa warga negara Iran dijadwalkan tiba dalam satu atau dua hari ke depan setelah singgah di Qatar. Namun, pihak berwenang Qatar belum memberikan respons atas pernyataan tersebut.
Noushabadi menambahkan bahwa sebagian besar warga negara Iran yang menjadi target telah memasuki AS tanpa dokumen, terutama melalui Meksiko. Beberapa dari mereka juga menghadapi masalah imigrasi lainnya. Deportasi ini, yang belum diumumkan secara resmi oleh pemerintahan Trump, terjadi di tengah ketegangan antara AS dan Iran. Hal ini terkait dengan konflik 12 hari pada Juni, di mana AS bersama Israel melakukan serangan terhadap Iran.
Deportasi ini juga merupakan bagian dari langkah-langkah yang lebih luas terhadap migran dan pencari suaka di AS. Presiden Trump sebelumnya berjanji untuk melakukan operasi deportasi terbesar dalam sejarah negara tersebut. Noushabadi menyatakan bahwa otoritas AS membuat keputusan secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan Iran.
Menurut laporan New York Times, yang mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, deportasi tersebut merupakan “puncak dari diskusi selama berbulan-bulan antara kedua negara”. Media AS ini menyebutkan bahwa beberapa warga Iran telah mengajukan diri untuk dipulangkan setelah bertahun-tahun tinggal di pusat penahanan, sementara yang lainnya tidak.
Sebuah penerbangan carteran AS lepas landas dari Louisiana pada Senin dan dijadwalkan tiba di Qatar pada malam Selasa. Tujuannya adalah untuk memindahkan warga Iran yang dideportasi ke penerbangan menuju Teheran. Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS belum memberikan komentar terkait hal ini.
Sejak kembali menjabat pada Januari, Trump telah menetapkan target untuk mendeportasi jumlah besar orang yang tinggal di AS. Namun, pemerintahannya menghadapi tantangan dalam meningkatkan jumlah deportasi. Meskipun telah menciptakan jalur baru untuk mengirim migran ke negara-negara selain negara asal mereka, hasilnya masih terbatas.
Pada Februari, AS mendeportasi 119 orang dari berbagai negara, termasuk Iran, ke Panama sebagai bagian dari perjanjian antara kedua negara. Langkah ini menunjukkan bahwa kebijakan imigrasi AS semakin ketat, terlepas dari tekanan internasional dan reaksi dari negara-negara yang terkena dampaknya.
