News

Vivo dan BP-AKR Gagal Peroleh BBM dari Pertamina

Pengelola SPBU Swasta Batal Beli Base Fuel dari Pertamina

Pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Vivo dan BP-AKR memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pembelian base fuel BBM dari PT Pertamina. Sebelumnya, kedua perusahaan ini telah sepakat untuk membeli bahan baku BBM murni tersebut. Namun, akhirnya keduanya membatalkan rencana tersebut.

Base fuel adalah produk BBM yang belum dicampur dengan zat tambahan seperti aditif atau pewarna. Produk ini kemudian diolah oleh SPBU swasta sesuai dengan spesifikasi dan racikan masing-masing perusahaan. Penambahan aditif dan pewarna inilah yang menjadi ciri khas dari produk akhir BBM di SPBU swasta.

Pada pekan lalu, Vivo dan BP-AKR telah menyetujui rencana pembelian base fuel BBM. Bahkan, Vivo menyatakan akan menyerap sebanyak 40 ribu barel. Namun, setelah berdiskusi kembali, Vivo memutuskan untuk menghentikan rencana tersebut.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar menjelaskan bahwa BP-AKR juga akhirnya mundur dari kesepakatan awal. Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, ia menyebutkan bahwa ada dua SPBU yang awalnya berkenan, yaitu Vivo dan BP-AKR. Namun, setelah melakukan diskusi ulang, keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan pembelian.

Berdasarkan hasil rapat bersama Kementerian ESDM pada 19 September, lima badan usaha SPBU swasta sempat menyatakan minat untuk membeli base fuel dari Pertamina. Tujuannya adalah untuk mengatasi kelangkaan stok BBM yang terjadi sejak Agustus. Keputusan ini kemudian diikuti dengan pembahasan antara Pertamina dan masing-masing perusahaan secara bisnis.

Menurut Muchtasyar, pembatalan pembelian oleh Vivo dan BP-AKR berkaitan dengan kandungan etanol sebesar 3,5% pada base fuel yang tersedia di Pertamina. Meskipun regulasi Indonesia memperbolehkan kandungan etanol hingga 20%, hal ini membuat SPBU swasta enggan melanjutkan pembelian.

“Ini yang membuat teman-teman SPBU swasta tidak melanjutkan pembelian karena ada konten etanol tersebut. Di mana konten itu sebetulnya masih masuk ambang yang diperkenankan oleh pemerintah,” ujarnya.

Meski demikian, kedua SPBU swasta ini tetap membuka peluang untuk menyerap pengadaan base fuel dari Pertamina jika dalam pengadaan kargo berikutnya memiliki kualitas yang sesuai. Menurut Muchtasyar, kecocokan kualitas base fuel sangat penting karena setiap merek memiliki spesifikasi yang berbeda.

Direktur VIVO Leonard Mamahit juga membenarkan bahwa perusahaan telah melakukan negosiasi dengan Pertamina terkait base fuel. Ia menjelaskan bahwa ada beberapa hal teknis yang tidak bisa dipenuhi oleh Pertamina, sehingga permintaan mereka harus dibatalkan.

Namun, Leonard tidak menutup kemungkinan kerja sama di masa depan. Jika Pertamina dapat memenuhi permintaan terkait spesifikasi base fuel BBM, maka kerja sama antara VIVO dan Pertamina bisa kembali dilakukan.

Penulis: Nida’an Khafiyya