News

Wajah Prabowo Muncul di Iklan Israel, Ini Tanggapan Kemenlu

Penjelasan Kementerian Luar Negeri RI Terkait Papan Iklan yang Menampilkan Wajah Presiden Prabowo Subianto di Israel

Sebuah papan iklan yang menampilkan wajah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dan beberapa tokoh internasional seperti mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kini menjadi sorotan publik. Papan iklan ini juga menampilkan foto dari para pemimpin Arab moderat, serta Ketua Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, dengan pesan “Yes to Trump’s Plan – GET IT DONE.” Baliho berlogo Abraham Shield tersebut dipasang di beberapa lokasi di Tel Aviv, Israel.

Pengunggahan foto tersebut di media sosial langsung memicu banyak pertanyaan dan perdebatan. Banyak pihak bertanya-tanya apakah kehadiran wajah Presiden Indonesia dalam baliho ini mencerminkan dukungan atau pengakuan resmi terhadap Israel. Hal ini menimbulkan spekulasi tentang posisi Indonesia dalam konflik Palestina-Israel.

Menanggapi isu-isu tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, memberikan penjelasan bahwa posisi Indonesia terhadap konflik di Palestina tetap jelas. Menurutnya, solusi dua negara masih menjadi prinsip utama yang tidak berubah. Indonesia menegaskan bahwa tidak akan ada pengakuan atau normalisasi hubungan dengan Israel, baik melalui perjanjian Abraham Accords maupun platform lainnya, kecuali Israel mengakui negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

“Visi apa pun terkait Israel harus dimulai dari pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina,” tegas Yvonne dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (30/9). Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri RI sebelumnya yang menekankan pentingnya pengakuan Palestina sebagai negara merdeka sebelum ada langkah lebih lanjut.

Reaksi Publik Terhadap Pernyataan Presiden Prabowo Subianto

Respons publik terhadap papan iklan tersebut bukan tanpa alasan. Beberapa hari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menyampaikan pernyataan yang dinilai mendukung Israel saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) pada 23 September lalu. Dalam pidatonya, ia menyatakan bahwa Indonesia siap mengakui Israel dan mendukung jaminan keamanannya, asalkan Palestina telah memperoleh kemerdekaannya dan diakui sebagai negara oleh Israel.

Pernyataan ini disampaikan dua kali oleh Presiden dalam dua kesempatan berbeda. Pertama, saat berpidato dalam High-level International Conference for the Peaceful Settlement of the Question of Palestine and the Implementation of the Two-State Solution pada 22 September. Kedua, dalam pidato Debat Umum SMU ke-80 PBB di New York.

Tantangan dalam Menjaga Keseimbangan Politik Luar Negeri

Isu ini menunjukkan betapa kompleksnya posisi Indonesia dalam konflik Palestina-Israel. Meskipun Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, negara ini tetap memegang prinsip bahwa perdamaian hanya bisa dicapai jika semua pihak saling menghormati hak-hak dasar rakyat Palestina. Dengan demikian, setiap langkah yang diambil oleh pemerintah harus dipertimbangkan secara matang agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau dampak negatif terhadap hubungan bilateral.

Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah untuk terus menjelaskan posisi mereka secara transparan kepada masyarakat dan dunia internasional. Dengan demikian, kebijakan luar negeri Indonesia dapat tetap konsisten dan berlandaskan prinsip perdamaian serta keadilan.

Penulis: Nida’an Khafiyya