Teknologi

WNA Jadi Bahan Hantam Buruh Proyek di Bali



Seorang warga negara Amerika Serikat (WNA) berinisial MD (laki-laki, 29 tahun) terlibat baku hantam dengan sejumlah buruh proyek di Jalan Pantai Suluban, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (23/11), sekitar pukul 09.30 WITA. Insiden ini menimbulkan kegaduhan dan memicu proses penyelidikan oleh pihak berwajib.

Sampai saat ini, motif dari pertengkaran tersebut masih dalam penyelidikan. Polisi sedang memeriksa MD dan pemilik alat berat proyek berinisial NK (perempuan, 47 tahun) yang terlibat dalam peristiwa ini. Kasi Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu penerjemah bersertifikasi untuk mendampingi dalam proses pemeriksaan terhadap MD.

Berdasarkan keterangan dari NK, insiden ini dimulai ketika MD tiba-tiba datang ke lokasi proyek pada Sabtu (22/11) dan menyiram solar ke arahnya tanpa alasan yang jelas. Pada hari berikutnya, MD kembali ke lokasi proyek dan merekam kegiatan NK menggunakan ponsel dengan nada tinggi. Ia juga mencolek pipi NK, yang akhirnya memicu kemarahan para buruh proyek.

“MD berbicara menggunakan bahasa Inggris yang tidak dipahami oleh korban, lalu memvideokan korban dengan handphone. Tindakan MD seolah-olah memancing emosi,” ujar Kasi Humas.

Peristiwa Awal Terjadi

Menurut keterangan salah satu sopir taksi berinisial MA (laki-laki, 45 tahun), yang baru saja menurunkan penumpang di lokasi kejadian, awalnya melihat MD berteriak-teriak dari hotel tempat ia menginap ke arah proyek. Hotel tersebut berada di belakang lokasi proyek.

MD kemudian datang ke lokasi proyek dan berbicara dengan nada tinggi dalam bahasa Inggris kepada NK. Setelah itu, MD mencolek pipi NK. Tak lama setelahnya, MD kembali ke lokasi proyek dengan membawa senjata tajam seperti parang. Ia langsung memukul NK hingga terjatuh ke tanah.

MD kemudian menyerang para buruh proyek. Para pekerja proyek berusaha menyelamatkan diri dan segera menghubungi polisi.

Korban dan Kerusakan

Insiden ini menyebabkan NK mengalami pusing akibat pukulan pada bagian belakang leher serta luka lecet pada kedua siku dan lutut. Sementara itu, MD mengalami luka robek pada telinga kiri dan luka lecet pada kedua lutut.

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya menjaga suasana damai dalam lingkungan kerja, terlebih jika ada perbedaan budaya dan bahasa. Selain itu, tindakan anarkis seperti yang dilakukan MD dapat berdampak serius baik secara fisik maupun psikologis bagi korban.

Langkah Penanganan

Polisi telah melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kejadian ini. Mereka akan terus meminta keterangan dari para pihak terkait, termasuk MD dan NK, serta saksi-saksi yang hadir di lokasi kejadian. Proses hukum akan dilanjutkan sesuai dengan mekanisme yang berlaku, termasuk pemeriksaan oleh penerjemah bersertifikasi untuk memastikan komunikasi yang jelas dan akurat.

Selain itu, pihak proyek juga diminta untuk memberikan informasi lengkap mengenai situasi di lokasi kerja agar bisa mencegah terulangnya kejadian serupa. Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan konflik dengan cara yang tenang dan profesional.

Penulis: Nida’an KhafiyyaEditor: Nida’an Khafiyya