News

Yang Diketahui tentang Paparan Radioaktif Cesium 137 di Cikande, Serang

Penanganan Paparan Radioaktif Cs-137 di Kecamatan Cikande

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa sembilan orang yang mengikuti pemeriksaan paparan radioaktif cesium (Cs-137) di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, dinyatakan positif berdasarkan hasil whole-body counter (WBC). Mereka kini dirawat di RSUP Fatmawati Jakarta. Kesembilan orang tersebut tidak menunjukkan gejala dan dalam kondisi baik.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa hasil tersebut diperoleh dari pemeriksaan sekitar 1.562 pekerja dan warga sekitar Kawasan Industri Cikande sebagai tindak lanjut dari kasus udang yang terpapar material radioaktif di daerah tersebut. Proses pemeriksaan dilakukan secara berlapis dengan alur pemeriksaan yang jelas.

Pertama, surveymeter digunakan untuk mendeteksi paparan eksternal radiasi pada tubuh dan pakaian. Jika positif, dilakukan dekontaminasi dengan mandi dan ganti pakaian, lalu diperiksa ulang. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat indikasi penurunan limfosit. Bagi yang limfositnya rendah, dilakukan WBC untuk mendeteksi paparan radiasi internal guna mengetahui kadar cesium yang masuk ke tubuh.

Jika terindikasi serius, pasien akan dirujuk ke RS rujukan nasional (RS Fatmawati) untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Total ada 9 orang yang dirujuk.

Awal Kasus

Kasus ini mencuat setelah pada Agustus 2025 ada penolakan ekspor udang beku asal Indonesia oleh pihak Amerika Serikat karena terdeteksi terkontaminasi radioaktif. Hasil penyelidikan pemerintah Indonesia menemukan sejumlah titik penimbunan material slag hasil peleburan yang mengandung zat radioaktif Cesium-137 di kawasan industri modern Cikande, Serang. Lokasi pabrik udang itu berdekatan dengan perusahaan yang diduga sebagai sumber pencemaran radioaktif.

Menyadari ancaman serius yang ditimbulkan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bergerak cepat berkoordinasi dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Komando Brimob Polri (KBRN) untuk mengamankan lokasi dan mencegah kontak langsung dengan manusia. KBRN segera memasang garis pengaman di delapan titik teridentifikasi, dilanjutkan proses dekontaminasi oleh Tim Khusus Pelaksana.

KLH/BPLH bersama tim lintas sektor juga terus melakukan deteksi tambahan di titik-titik lain yang berpotensi terkontaminasi untuk memastikan tidak ada sumber radiasi yang terlewatkan. Satgas mengidentifikasi sepuluh titik yang memancarkan radiasi Cesium-137 dengan intensitas berbeda-beda. Dua titik telah berhasil didekontaminasi, dan material radioaktifnya telah dipindahkan ke gudang PT Peter Metal Technology Indonesia yang terkonfirmasi sebagai sumber lokal pencemaran.

Efek Paparan Cs-137

Kemenkes mengungkapkan sejumlah efek dan dampak dari paparan Cs-137 ke tubuh manusia, meliputi efek jangka pendek seperti sindrom radiasi akut, yakni mual, muntah, diare, kelelahan, sakit kepala, hingga penurunan sel darah putih. Selain itu, kerusakan kulit dan jaringan dengan tanda kemerahan, lepuh, luka bakar radiasi.

Pada paparan radiasi yang tinggi, ada risiko perdarahan, infeksi berat, kerusakan organ, dan kematian. Sedangkan pada jangka panjang, paparan rendah berulang atau internal, ada peningkatan risiko kanker akibat kerusakan DNA, penurunan daya tahan tubuh karena gangguan sumsum tulang dan imunitas. Bila paparan pada ibu hamil, risiko kelainan janin meningkat.

Imbauan Satgas Penanganan Cs-137

Pemerintah melalui Satgas Penanganan Cs-137 telah melakukan langkah penanganan di wilayah Cikande dan sekitarnya, yakni dalam radius 5 km. Sejumlah langkah yang dilakukan, antara lain edukasi dan komunikasi risiko kepada masyarakat agar tetap tenang, namun waspada, serta pemantauan kesehatan masyarakat akan dilakukan, termasuk pemantauan kepada keluarga dan kontak serumah.

“Pemeriksaan akan diperluas menunggu hasil pemetaan dari BAPETEN dan BRIN,” kata Aji. Dia mengimbau publik untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di puskesmas atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk pemerintah, karena radiasi tidak bisa dilihat, didengar, atau dicium, sehingga pemeriksaan kesehatan sangat penting untuk mengetahui dampaknya.

“Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Rajin cuci tangan, mandi setelah beraktivitas di area berisiko, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup,” katanya.

Apa Itu Cesium?

Peneliti Ahli Utama pada Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Prof Djarot S Wisnubroto, memberikan penjelasan mengenai apa itu Cs-137. Menurutnya, Cs-137 adalah radionuklida yang lazim dipakai di industri, misalnya alat ukur level/kepadatan, dan riset. Cesium ini mudah bergerak di udara, larut dalam air, dan mudah terikat kuat kepada tanah dan beton.

Cesium-137 digunakan dalam jumlah kecil untuk kalibrasi peralatan deteksi radiasi, seperti penghitung Geiger-Mueller. Dalam jumlah yang lebih besar, Cs-137 digunakan dalam perangkat terapi radiasi medis untuk mengobati kanker hingga pengukur industri. Menurut Djarot, Cesium-137 ini memancarkan radiasi gamma dan punya paruh waktu hingga 30 tahun.

“Dalam sumber tertutup yang utuh penggunaannya aman; risiko muncul bila kemasan rusak atau ada cemaran pada tanah/permukaan,” kata dia. “Penting: Cs-137 bukan gas, ia cenderung menempel pada tanah/material padat dan bisa dilacak titiknya.”

Seberapa Luas Radiasi Cs-137?

Menurut Djarot, tidak ada radius tetap cemaran dari Cs-137. Paparannya akan menurun cepat saat menjauh dari sumbernya (hukum jarak). Titik panas (hotspot) biasanya sangat lokal (meter hingga puluhan meter). Karena itu petugas memasang pagar pada kontur laju dosis aman.

Saat ini, di Cikande, petugas sudah membatasi wilayah aman. Satgas Penanganan Cs-137 telah melakukan langkah penanganan di wilayah Cikande dan sekitarnya, yakni dalam radius 5 km. Menurut Djarot, jika sudah diberi pembatasan macam ini, maka di luar wilayah itu aman bagi publik.

“Di luar pagar, nilainya kembali mendekati latar belakang dan aman bagi publik,” kata dia. Berdasarkan praktek keselamatan, evakuasi massal tidak diperlukan selama publik tidak masuk area berpagar. Perlindungan dilakukan dengan pembatasan area, yang menurutnya hal itu jauh lebih efektif dan proporsional.

Di salah satu titik terkontaminasi, yang diberi nama Lokasi F, sekitar dua tas besar material dan enam drum High-Density Polyethylene (HDPE) dengan kadar radiasi tinggi telah berhasil diamankan. Total, dari lokasi A dan F telah diangkat sedikitnya 20 drum, 17 jumbo bag dan 3 pallet. Proses pengangkatan dan pengangkutan material terkontaminasi akan terus dilakukan hingga seluruh area yang terpapar radionuklida Cs-137 dinyatakan bersih.

Sepanjang proses pelaksanaan dekontaminasi di lokasi A & F, Tim Satgas dipandu oleh Petugas Proteksi Radiasi (PPR) dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir untuk melindungi keselamatan pelaksana kerja dari paparan radiasi yang berlebihan dan membahayakan. Untuk mencegah meluasnya kontaminasi, Tim Satgas Brimob KBRN POLRI melakukan pengawasan ketat terhadap setiap kendaraan yang keluar-masuk kawasan industri. Pemeriksaan dilakukan guna memastikan tidak ada kendaraan yang membawa jejak radiasi ke luar kawasan.

Penulis: Nida’an Khafiyya