News

Harga Biodiesel Turun Tipis di Oktober 2025 menjadi Rp13.921 per Liter

Penetapan Harga Biodiesel dan Bioetanol untuk Bulan Oktober 2025

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan harga indeks pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel untuk bulan Oktober 2025 sebesar Rp 13.921 per liter, termasuk ongkos angkut. Angka ini mengalami penurunan sebesar Rp 27 per liter dibandingkan harga pada bulan sebelumnya yang mencapai Rp 13.948 per liter.

Penetapan harga ini dilakukan dalam rangka implementasi program mandatori biodiesel. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 18 ayat (3) Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan. Dengan adanya aturan ini, pemerintah berupaya memperkuat penggunaan energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar minyak fosil.

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang dibuat dari minyak nabati atau hewani. Bahan ini dapat digunakan sebagai pengganti solar pada mesin diesel. Di Indonesia, saat ini telah diterapkan campuran biodiesel sebesar 40% atau disebut B40. Penerapan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak non-terbarukan serta mendukung kebijakan lingkungan.

Besaran harga indeks pasar bahan bakar nabati (HIP BBN) untuk biodiesel dihitung berdasarkan ketentuan Diktum Kesatu Keputusan Menteri ESDM Nomor 3.K/EK.05/DJE/2024 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel yang Dicampurkan ke Dalam Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar. Selain itu, harga juga dihitung berdasarkan ongkos angkut yang ditentukan dalam Lampiran I Keputusan Menteri ESDM Nomor 153.K/EK.05/DJE/2024.

Perhitungan harga HIP BBN biodiesel didasarkan pada formula harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Kantor Pemasaran Bersama (KPB) rata-rata, ditambah US$ 85 per ton dikalikan 870 per kilogram/m3, serta biaya pengangkutan. Nilai US$ 85 per MT adalah nilai konversi bahan baku menjadi biodiesel, sedangkan 870 kg/m3 merupakan faktor satuan dari kilogram ke liter.

Perkembangan Harga Bioetanol

Selain biodiesel, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) juga menetapkan harga indeks pasar bioetanol untuk periode Oktober 2025 sebesar Rp 9.263 per liter. Angka ini turun sebesar Rp 350 dibandingkan harga pada bulan September yang mencapai Rp 9.613 per liter. Saat ini, harga bioetanol sudah berada di bawah Rp 10.000 per liter.

Pengurangan harga ini menunjukkan bahwa produksi bioetanol semakin efisien dan mampu bersaing secara ekonomis. Adanya penurunan harga ini juga menjadi indikasi bahwa penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif semakin diminati oleh masyarakat.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meski ada kemajuan dalam penggunaan biodiesel dan bioetanol, penerapan biodiesel B50 masih belum bisa dilakukan pada awal tahun 2026. Pemerintah masih menunggu tahap pengujian agar dapat memastikan kesiapan infrastruktur dan keandalan bahan bakar tersebut.

Dalam waktu dekat, ESDM membuka peluang pemetaan mandatori biodiesel tahun 2026 dengan target utama biodiesel B50. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi energi terbarukan serta mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.

Dengan terus dilakukannya penyesuaian harga dan penguatan regulasi, diharapkan penggunaan biodiesel dan bioetanol akan semakin meningkat, sehingga memberikan kontribusi besar bagi keberlanjutan energi nasional.

Penulis: Nida’an Khafiyya