News

Semen Baturaja: Kelebihan Pasok, Asosiasi Prediksi Hingga 2030

Tantangan Industri Semen dan Strategi Semen Baturaja

Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR), Suherman Yahya, menyampaikan bahwa industri semen saat ini menghadapi tantangan besar berupa kelebihan pasokan atau oversupply. Menurutnya, kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga tahun 2030. Hal ini didasarkan pada proyeksi dari Asosiasi Semen Indonesia yang menunjukkan adanya surplus pasokan secara nasional dalam jangka panjang.

Suherman menjelaskan bahwa meskipun permintaan semen secara nasional turun sebesar 2 persen, kawasan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) masih menunjukkan pertumbuhan permintaan. Faktor utamanya adalah berjalannya berbagai program pemerintah, seperti pembangunan infrastruktur dan perumahan. Selain itu, Sumbagsel juga menjadi fokus pasar bagi perusahaan, dengan adanya proyek pemerintah maupun swasta serta pertumbuhan sektor retail yang berkontribusi pada peningkatan volume penjualan.

Menurut Suherman, kondisi ini menjadi peluang besar bagi Semen Baturaja untuk terus meningkatkan pertumbuhannya. “Ini momentum penting untuk memperkuat posisi kami di Sumbagsel, yang merupakan pusat pertumbuhan,” ujarnya.

Pertumbuhan Laba dan Volume Penjualan

Di sisi lain, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Semen Baturaja, Rahmat Hidayat, menyebutkan bahwa perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan, yaitu sebesar 951 persen, disertai dengan peningkatan volume penjualan sebesar 21 persen. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh kolaborasi antara Semen Baturaja dengan PT Semen Indonesia (Persero) atau SIG.

Rahmat menjelaskan bahwa efisiensi operasional dan optimalisasi jalur distribusi telah menjadi strategi utama perusahaan. Semen Baturaja juga melakukan konsolidasi pasar dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di bawah naungan SIG. Jalur distribusi utama perusahaan meliputi Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Selain itu, kerja sama dengan SIG memungkinkan Semen Baturaja untuk memperluas akses pasar hingga ke Aceh sampai Papua. Dengan demikian, perusahaan memiliki ruang pasar yang lebih luas, sehingga mendorong peningkatan kinerja baik dari segi volume maupun laba bersih.

Strategi Efisiensi dan Teknologi Produksi

Direktur Operasi Semen Baturaja, Taufik, menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan strategi cost leadership dengan menekan biaya produksi melalui berbagai upaya. Misalnya, penggunaan energi yang lebih efisien, pengurangan faktor klinker, serta pemanfaatan alternative raw material yang lebih ekonomis.

Selain itu, Semen Baturaja juga mengadopsi teknologi plant automation melalui sistem Intelligence Process Control System (IPCS). Sistem ini menggunakan model prediktif untuk mengoptimalkan operasi secara real-time selama proses produksi. Dengan IPCS, perusahaan dapat menghitung secara otomatis jumlah bahan bakar, suhu, dan kadar oksigen, sehingga proses produksi menjadi lebih stabil, hemat energi, ramah lingkungan, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.

Taufik menambahkan bahwa perusahaan juga menerapkan sistem maintenance pada peralatan untuk memastikan operasi pabrik berjalan dengan prinsip operational excellence. Dengan demikian, keandalan dan kelancaran produksi tetap terjaga, serta operasi bisa berjalan secara optimal.

Penulis: Nida’an Khafiyya